Movie Review: Red Dawn (2012)

7/21/2013 07:53:00 PM 0 Comments A+ a-

Pernahkah kamu membayangkan, misalnya jika musuh negara kita tiba-tiba saja datang dan mengambil alih sebagian wilayah negara ini? Kemudian, mereka dengan seenaknya berlaku layaknya seperti penguasa negeri ini, mengancam keamanan penduduk, dan membatasi segala aktivitas orang-orang yang tinggal di wilayah itu. Whooaa! I can imagine that! Itulah yang terjadi dalam film RED DAWN yang disutradarai oleh Dan Bradley.



Okay, mungkin tulisan ini bukan review secara utuh, aku cuma ingin sedikit mengomentari film yang penuh dengan bumbu nasionalisme atau cinta tanah air terhadap negara mereka.

Film Red Dawn dimulai dengan cuplikan beberapa berita (yang sebenarnya terjadi) yang memuat tentang kebangkitan kembali kekuatan sosialisme di Korea Utara, negara itu rupanya sangat mengancam keamanan Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Seperti yang kita ketahui, katanya, Korut sangat mengancam stabilitas keamanan dunia dengan pembuatan senjata nuklirnya. Meskipun Korut sebenarnya telah berperang dengan Korsel, tapi dibalik kekuatan Korsel ada US yang selalu membantunya, sehingga secara otomatis Korut juga telah mengancam US.

Kemudian scene berlanjut pada sebuah pertandingan American Football, Matt Eckert, yang menjadi aktor utama dalam film ini adalah seorang remaja berusia 17 tahun-an, akibat ulahnya yang seenaknya akhirnya timnya, Wolverine, harus mengalami kekalahan. Matt saat itu ditonton pula oleh ayahnya yang seorang polisi dan kakaknya, Jed (dibintangi oleh Chris Hemsworth), yang merupakan perwira angkatan laut yang baru saja pulang dari tugasnya di Irak.

Keesokan harinya, di pagi hari, tiba-tiba saja dari langit turun pasukan tak dikenal. Semua jalan di kota (aduh lupa deh) sudah dipenuhi oleh pasukan dari Korea Utara. Warga yang memberontak ditangkap dan dipenjara seperti tahanan. Tentu saja, Jed sebagai anggota militer US langsung bertindak cepat agar ia dan adiknya selamat. Mereka melarikan diri ke hutan diikuti oleh beberapa remaja lainnya. Kelompok remaja itu akhirnya menemukan sebuah pondok dan untuk sementara tinggal di sana karena situasi semakin buruk. Namun, ternyata pasukan Korut mengetahui keberadaan para remaja itu. Kelompok itu bersembunyi di tengah hutan. Mereka membawa ayah Daryl dan juga sang polisi (ayah Jed dan Matt). Ayah Daryl yang merupakan walikota daerah itu menyuruh para remaja untuk kembali, agar mereka selamat. Sedangkan Ayah Jed dan Matt menyuruh mereka untuk tetap bertahan dan justru melakukan perlawanan terhadap pasukan Korut. Kapten Cho akhirnya menembak sang polisi.

Pemberontakan pun dimulai. Kelompok remaja yang dipimpin Jed beranggotakan Matt, Robert (Josh Hutcherson), Daryl (dibintangi oleh Conor Cruise, anaknya Tom Cruise), Toni, Julie, Dany, dan Greg memulai strategi mereka untuk melawan. Mereka berlatih menggunakan senjata dan bom, menyelinap, dan menyerang musuh. Hingga mereka bisa merealisasikan itu semua, dengan langsung menyerang tempat-tempat yang dipenuhi oleh tentara-tentara Korut. Mereka memberikan tanda 'Wolverine' di dinding-dinding jalanan setelah melakukan penyerangan. Mereka berusaha menyulut kemarahan warga yang lain agar ikut berjuang bersama mengusir tentara musuh dari tanah negeri mereka.

Ya, seperti itulah kira-kira jalan ceritanya. Kalau tertarik ingin menonton, silakan download sendiri aja ya di website penyedia film gratis, heheh.

Nah, apa yang mau dikomentarin nih? Sebenarnya, film ini bukan film yang bagus-bagus amat. Kalau aku pikir sih, justru film ini kaya sebuah sindiran terhadap pemerintah Amerika sendiri. Bukankah US lebih banyak melakukan invasi-invasi yang tiba-tiba dan juga dengan alasan yang kurang logis seperti misalnya invasi ke Irak dan Afghanistan dengan alasan memerangi terorisme setelah tragedi runtuhnya WTC. Padahal masih belum diketahui dengan jelas siapa dalang perbuatan keji itu. Namun, dengan alasan itu US menggembar-gemborkan War Against Terorism dan memulai invasinya ke Afghanistan dan Irak. Semua mata dunia tertuju kesana pada saat itu, mereka menghancurkan negara itu, menyiksa rakyat negeri itu dengan kejam, dan mengambil sumber daya alamnya. Masyarakat dunia sudah mengetahui dengan jelas sekarang, bahwa sebenarnya US hanya ingin menguasai kekayaan SDA disana. Film ini tentu saja berkebalikan dengan realita yang ada sebenarnya. Lagipula, film ini juga sangat mengusung ide nasionalisme yang dalam Islam tidak diperbolehkan. Lihat saja kutipan kata-kata yang diucapkan oleh Jed kemudian diulang oleh Matt setelah kakaknya itu mati. Berikut cuplikannya:
We're not doing too bad for a bunch of kids. We're gonna fight, and we're gonna keep fighting, because it's easier now. And we're used to it. The rest of you are going to have a tougher choice. Because we're not going to sell it to you. It's too ugly for that. But when you're fighting in your own backyard, when you're fighting for your family, it all hurts a little less, and makes a little more sense. Because for them, this is just a place. But for us, this is our home.
See that, huh?!
Yah begitulah, film box office Amerika kebanyakan memutarbalikan realita yang ada. Banyak sekali film-film yang mengusung tema-tema Hero untuk menyelamatkan dunia, tapi siapa sih yang merusak dunia ini dengan kapitalisme dan imperialisme modernnya?
You know the answer, right?!

Oh ya, tapi film ini juga mengingatkan kita tentang 'pemberontakan' yang terjadi di Suriah. Sekelompok anak muda yang jengah dengan kondisi Suriah yang dipimpin oleh diktator Bashar Assad, mencoret-coret dinding jalanan untuk mengobarkan revolusi. Namun bedanya dengan film ini, 'pemberontakan' ini justru terjadi di dalam negeri mereka sendiri untuk lepas dari tirani pemerintah mereka yang kejam. Sampai saat ini, perjuangan 'pemberontakan' tentara Mujahiddin belum berakhir. Tentara Mujahiddin yang beranggotakan seluruh kalangan dari orang tua (bahkan tua sekali) sampai anak muda (bahkan anak kecil) selalu memegang senjata, mereka menghancurkan tentara-tentara pemerintah dan membombardir markas militernya. Namun, bukan nasionalisme yang mereka perjuangkan. Diin Islam-lah yang mereka perjuangkan sampai mati, agar sistem kehidupan yang berasal dari Yang Maha Kuasa itu dapat segera tegak untuk melepaskan semua tirani yang ada di dunia ini.

Bisa kita lihat kan perbandingannya? Mana yang lebih mulia?
Of course, you still know the answer! :)