My Journal: Ghost as Manifestation of Alienation in Charles Dicken's Fictions

11/30/2013 03:19:00 AM 4 Comments A+ a-

Karena bingung ingin posting apa, jadi saya akan posting jurnal skripsi saya. :)
Kenapa hantu? Karena hantu adalah simbol alienasi yang terjadi pada masa Victoria atau Eropa pada abad ke-19. Sedangkan alienasi terjadi akibat kapitalisme. Check this out!

Hantu sebagai Manifestasi Alienasi dalam Fiksi Karya Charles Dickens


Abstract
Charles Dickens was a writer in Victorian period. He had been famous
with his works even until now, he also wrote many ghost stories in his life. In this
research, it’s seen how ghost in Dickens’ stories are related to concept of
alienation, both of Marx and Seeman. This research aims to study the narrative
elements which experiences alienation and can be as well categorized as ghosts.
The kind of alienation experienced by the ghosts is then analyzed. As a
consequence, the study will show how the ghosts become the manifestation of
alienation in Charles Dickens’ works.

Keywords: Ghost, Alienation


Abstrak
Charles Dickens adalah salah satu penulis era Victoria. Ia terkenal dengan
karya-karya besarnya hingga sekarang, termasuk juga dengan cerita hantu dalam
karyanya. Dalam penelitian ini, terlihat adanya hubungan antara hantu yang
disajikan oleh Dickens dengan konsep alienasi yang dicetuskan oleh Marx dan
Seeman. Penelitian ini dilakukan untuk melihat unsur-unsur yang mengalami
alienasi dan dapat dikategorikan sebagai hantu, serta macam-macam alienasi yang
muncul dalam penelitian ini, sehingga akan terlihat hubungan antara unsur-unsur
yang terkategori sebagai hantu dengan alienasi yang terjadi pada unsur-unsur
tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terlihat bahwa hantu merupakan
manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.
Kata Kunci: Hantu, Alienasi

Pendahuluan

Dalam tiga fiksi karya Charles Dickens, yaitu A Christmas Carol, Three
Ghost Stories, dan The Haunted Man and the Ghost’s Bargain tampak adanya
unsur alienasi yang berkaitan dengan konsep hantu yang terdapat dalam masingmasing
karya.

Hantu dalam karya Charles Dickens memiliki penggambaran yang unik
dan berbeda, karena hantu yang dimunculkan tidak selalu dalam bentuk dalam
artian yang sebenarnya, tetapi dapat pula hantu dalam artian lain. Hantu menurut
Guiley (1992) adalah “the spirit, image, or presence of dead”, ini merupakan
hantu dalam artian sebenarnya, yang berarti ruh yang mengalami kematian
kemudian kembali ke dunia. Sedangkan hantu dalam artian tidak sebenarnya
adalah sesuatu tidak terlihat tetapi berpengaruh pada kehidupan manusia (Smajic,
2010: 16).

Selain itu, hantu yang disajikan oleh Dickens dalam karya-karya tersebut
berkaitan pula dengan konsep alienasi. Teori mengenai alienasi yang dipakai
dalam penelitian ini ada dua, yaitu konsep alienasi Marx yang dibahas oleh Erich
Fromm dan Bertell Ollman, yang lebih menekankan pada konsep kerja dan
aktivitas para buruh dan kaitannya dengan produk dan juga dengan manusia
lainnya, serta konsep alienasi Melvin Seeman sebagai pengembangan teori
alienasi Marx yang lebih memfokuskan pada segi psikologi-sosial yang erat
kaitannya dengan hubungan sosial masyarakat serta hasrat dan harapan bagi
manusia itu sendiri.

Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode strukturalisme dalam
meninjau dan menganalisis unsur-unsur yang menjadi topik penelitian ini, yaitu
hantu dihubungkan dengan konsep alienasi. Metode strukturalisme adalah metode
untuk mengetahui bagaimana sesuatu yang ada dibangun oleh struktur-struktur
sehingga akan menjadi satu kesatuan (Hudayat, 2007). Dengan menganalisis
unsur intrinsik yang terdapat dalam karya tersebut, seperti alur, penokohan, dan
tempat, serta melihat persamaan-persamaan yang terdapat dalam tiga karya
tersebut, maka akan terlihat struktur yang terbangun, yaitu kaitan antara hantu dan
alienasi dilihat dari gejala-gejala teks yang terjadi.
Dengan mengkaitkan topik pada penelitian ini dengan teori yang dibahas
maka akan terlihat bagaimana hantu dalam karya Dickens menjadi manifestasi
alienasi, baik dalam hubungannya dengan manusia, produk, aktivitas, maupun
dengan dirinya sendiri.

Pembahasan

Hantu dalam karya Dickens memiliki keunikan tersendiri, karena terdapat
berbagai macam hantu dengan penggambaran yang berbeda dalam setiap
karyanya. Saya mengklasifikasikan hantu dalam karya Dickens menjadi dua jenis,
yaitu hantu simbolik dan hantu non-simbolik. Hantu simbolik adalah sesuatu atau
unsure-unsur yang memiliki ciri-ciri seperti hantu sebenarnya atau sesuatu yang
dapat disimbolkan seperti hantu, sedangkan hantu non-simbolik adalah hantu
dalam artian sebenarnya, yaitu ruh yang bergentayangan.
Dalam A Christmas Carol, hantu Marley menjadi fokus pada pembahasan
ini. Hantu Marley merupakan hantu non-simbolik yang teralienasi dari dirinya
yang merupakan hantu bergentayangan. Bagi Marx, konsep alienasi ini didasarkan
pada perbedaan eksistensi dan esensi, dan fakta alienasi bahwa eksistensi manusia
teralienasi dari esensinya (Fromm, 2001: 62). Dalam kasus Marley, eksistensi
dirinya terlepas dari esensinya sebagai jiwa yang telah mati, bahwa seharusnya
setelah mati ia mendapatkan kedamaian di alam lain, bukan bergentayangan.
Dalam kasus alienasi lainnya, tokoh Scrooge (manusia) dapat merepresentasi
Marley. Hal ini ditunjukkan ketika hantu Marley mendatangi Scrooge dan
meminta tolong agar ia membebaskan dirinya yang terbelenggu rantai. Ketika
Scrooge dapat terlepas dari keteralienasiannya, maka Marley akan selamat.
Scrooge memiliki ciri-ciri yang lebih dekat seperti hantu daripada manusia,
sehingga saya mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik. Ia tidak memiliki
harapan yang jelas dalam hidupnya, dan ia pun hidup jauh dari masyarakat
lainnya. Hal ini berkaitan dengan konsep alienasi Seeman, bahwa seseorang
dikatakan teralienasi jika ia tidak dapat mengetahui harapan hidupnya sendiri dan
ia terpisah dari masyarakat (Seeman, 1959: 784-788)

Aktivitas Scrooge merepresentasikan Marley ketika ia masih hidup.
Mereka memiliki firma dengan nama Scrooge and Marley, dengan nama ini pula
masyarakat dalam cerita tersebut selalu menganggap mereka sama saja. Scrooge
merupakan pemilik dan pekerja dalam perusahaannya tersebut. Ia adalah orang
yang sangat pekerja keras bahkan ketika Natal tiba, ia masih mewajibkan
pegawainya untuk tetap bekerja. Dalam hubungannya dengan manusia lainnya,
maka Scrooge teralienasi, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas
kerjanya, semakin sedikit pula waktu untuk bersama dengan orang lain, sehingga
ia teralienasi dari masyarakat yang memang sudah membencinya, karena sikapnya
yang kikir dan sombong atau menurut Seeman, ia melanggar nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat untuk mencapai tujuannya atau disebut dengan istilah
normlessness (Seeman, 1959: 788).

Dalam Three Ghost Stories, hantu yang terdapat pada karya ini berbedabeda,
baik dalam penggambarannya maupun penampilannya. Dalam The
Signalman, tokoh he menjadi fokus dalam cerita ini. Saya mengketegorikannya
sebagai hantu simbolik, karena pendeskripsian tokohnya yang mirip seperti hantu
dan tempat tinggalnya yang mirip seperti kuburan. Tokoh he merupakan seorang
pemberi sinyal kereta, yang berarti bahwa dia adalah termasuk kedalam kelas
pekerja. menurut Marx, kelas pekerja adalah kelas yang paling teralienasi
(Fromm, 2001: 73). Hal ini karena aktivitas mereka tersekat-sekat sehingga
mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menentukan kekuasaan atas dirinya.
Begitu pula dengan signalman, dia hanya bekerja sebagai pemberi sinyal saja.
Konsekuensi dari pekerjaannya itu adalah ia ditempatkan di tempat yang sesuai
dengan aktivitasnya itu, meskipun pada akhirnya ia menjadi teralienasi, baik dari
aktivitasnya, orang lain, maupun dirinya sendiri. Ia pun tinggal jauh dari tempat
tinggal masyarakat lainnya sehingga ia mengalami social-isolation (Seeman,
1959:788), sebagai konsekuensi ia bekerja sebagai seorang pemberi sinyal.

Kemudian, dalam The Haunted House, rumah berhantu ini menjadi fokus
cerita dalam pembahasan ini. Rumah yang merupakan sebuah tempat tinggal
dikategorikan menjadi sebuah hantu simbolik. Rumah ini menjadi sebuah tempat
yang menakutkan bagi masyarakat di sekitarnya, ia terlepas dari esensi yang
sesungguhnya yaitu yang seharusnya menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk
ditinggali dan tempat untuk berlindung bagi sebuah keluarga. Oleh karenanya,
rumah itu teralienasi. Selain itu, tempatnya terdapat di lingkungan yang jauh dari
tempat tinggal masyarakat lainnya, sehingga rumah itu menjadi apartness from
society (Seeman, 1959:788), karena dijauhi oleh masyarakat sekitarnya, rumah itu
mengalami social isolation. Hantu-hantu (non-simbolik) itulah yang membuat
rumah itu menjadi teralienasi, sehingga peran hantu non-simbolik pada rumah ini
adalah sebagai pengalienasi bagi rumah tersebut.

Dalam The Trial for Murder, yang menjadi fokus adalah the murdered
man yang merupakan hantu non-simbolik yang mengalienasi narator (I). Hal ini
didasarkan pada hantu the murdered man selalu muncul dihadapan narator yang
merupakan juri persidangan atas kasus pembunuhan dirinya, sehingga narator
dapat melihatnya, sedangkan juri persidangan yang lain tidak dapat melihatnya.
Narator menjadi teralienasi karena dirinya digunakan oleh sesuatu yang asing
(hantu) untuk mencapai tujuan yang asing pula. Hal ini seperti yang diungkapkan
Fromm dalam konsep alienasi Marx, bahwa kasus ini seperti yang terjadi pada
seorang buruh, dimana keberadaannya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan si
majikan buruh tersebut. Buruh bekerja dan kemampuannya menjadi terbatas
karena majikannya yang telah mengatur bagian-bagian kerja buruh tersebut.
Padahal seharusnya, manusia itu seharusnya mencapai tujuan dalam dirinya
sendiri, bukan digunakan untuk menjadi alat mencapai sebuah tujuan (Fromm,
2001: 70). Kemampuan asli narator dalam persidangan ini menjadi terbatas,
karena hantu tersebut menunjukkan bagaimana proses ia dibunuh dengan
menampakkan dirinya, sehingga narator menjadi teralienasi dari dirinya sendiri.
Terakhir, dalam karya The Haunted Man and the Ghost’ Bargain, tokoh
Redlaw menjadi tokoh sentral. Ia merupakan seorang chemist yang selalu
menghabiskan waktunya di dalam laboratoriumnya. Saya juga
mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik, karena dari pendeskripsian dirinya
seperti orang yang dihantui. Ia hanya dapat ditemui pada malam hari saja, selain
itu ia memiliki suara yang berat dan menyeramkan. Redlaw selalu dihantui oleh
masa lalunya yang menyedihkan, sehingga ia berasumsi bahwa kenangan masa
lalunya itu yang membuatnya tersiksa. Hantu non-simbolik pada karya ini adalah
Phantom, yang selalu menghantui Redlaw. Phantom dapat menjadi representasi
Redlaw karena digambarkan memiliki ciri-ciri yang sama, dan terdapat satu
adegan ketika mereka berbicara seperti sedang berkaca, sehingga baik Redlaw
maupun Phantom dapat merefleksikan satu sama lainnya,
Redlaw adalah seseorang yang teralienasi, meskipun ia adalah seorang ahli
kimia, ia banyak menghabiskan aktivitasnya di lab miliknya, sehingga hubungan
dirinya dengan masyarakat lainnya pun menjadi terbatas, dengan kata lain ia
mengalami social-isolation. Ia juga powerless atau tidak berdaya ketika
memutuskan sesuatu dan justru takdirnya berada di tangan yang lain (Seeman,
1959:784). Hal ini terjadi ketika phantom menawarkannya untuk melupakan
kenangan masa lalunya. Phantom merasa jika ia menjadi Redlaw, ia akan
melakukan hal itu, sehingga Redlaw pun menyetujui kesepakatan itu karena ia
juga merasa bahwa phantom itu lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Ia juga
mengalami self-estrangement yaitu ia teralienasi dari dirinya sendiri, ketika ia
telah lupa dengan masa lalunya, yang berarti bahwa ia telah terpisah dari dirinya
sendiri, karena ia telah menjadi sesuatu yang baru, seperti konsep alienasi Seeman
mengenai self-estrangement yang dikutip dari Fromm (1955) “By alienation is
meant a mode of experience in which the person experiences himself as an alien.
He has become one might say, estranged from himself”. Redlaw terpisah dari
dirinya sendiri, karena ia kehilangan sesuatu yang dia miliki.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, saya
menemukan bahwa tiga karya Charles Dickens yang dibahas dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa hantu, baik simbolik maupun non-simbolik, berkaitan
dengan alienasi yang dicetuskan oleh Marx melalui Fromm dan Ollman, serta
alienasi Seeman. Hal ini ditunjukkan melalui sikap dan aktivitas para tokoh dalam
karya-karya tersebut yang merupakan unsur-unsur yang penting dalam
membangun hubungan antara cerita dengan teori.
Hantu yang menjadi fokus dalam penelitian ini tidak selalu muncul dalam
artian sebenarnya, tetapi muncul pula dalam arti yang lain, sehingga unsur-unsur
(seperti tokoh manusia dan benda) yang memiliki deskripsi seperti hantu dapat
pula disimbolkan sebagai hantu. Unsur-unsur yang disimbolkan menjadi hantu ini
pun ternyata selalu berkaitan dengan alienasi. Jenis alienasi yang terjadi pada
tokoh yang difokuskan dalam cerita itu pun cukup rumit, karena baik konsep
alienasi Marx dan Seeman terdapat di dalamnya. Hal ini terlihat jelas ketika
aktivitas tokoh menentukan harapan hidupnya. Aktivitas yang dilakukan terlihat
bukan sesuatu yang muncul dalam dirinya sendiri, tetapi tuntutan dari sesuatu
yang asing itu, sehingga ia tidak dapat menentukan apa yang menjadi harapan
hidupnya. Oleh karenanya, tokoh manusia yang rata-rata menjadi hantu simbolik
dalam penelitian ini, hidupnya tidak jelas, dan keberadaan mereka layaknya hantu,
yang tidak mempunyai harapan. Dari aktivitas itu juga yang membuat mereka
diasingkan atau terasing dari orang lainnya, sehingga jelas mereka mengalami
alienasi. Sedangkan hantu non-simbolik, keberadaannya ada yang teralienasi
maupun menjadi pengalienasi. Jadi, baik hantu simbolik maupun non-simbolik
selalu berkaitan dengan alienasi. Sehingga, dari penelitian ini terlihat bahwa hantu
menjadi manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.


Daftar Sumber:
Fromm, E. 2001. Konsep Manusia menurut Marx. Terjemahan dari Marx’s
Concept of Man oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Schacht, R. 1970. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif. Terjemahan dari
Alienation oleh Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Percetakan Jalasutra.
Buku dan Jurnal Elektronik:
Coffey, N. 2004. "Every Word of it is True”: The Cultural Significance of the
Victorian Ghost Story. Department of English. Winnipeg, Mannitoba:
University of Mannitoba.
Derrida, J. 1993. Specters of Marx. New York: Routledge.
Dickens, C. 1848. The Haunted Man and The Ghost's Bargain. Feedbooks.
Dickens, C. 1843. A Christmas Carol. Planet PDF.
Dickens, C. Three Ghost Stories. Planet PDF.
Guiley, R. E. 1992. The Encyclopedia of Ghosts and Spirits. New York: Facts
on File Inc.
Handley, S. 2007. Visions of An Unseen World: Ghost Beliefs and Ghost
Stories in Eighteenth-Century England. London: Pickering & Chatto.
Hudayat, A. Y. 2007. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Fakultas Sastra,
Universitas Padjadjaran.
Ollman, B. 1971. Alienation: Marx's Conception of Man in Capitalist Society.
New York: Cambridge University Press.
Seeman, M. 1959. "On The Meaning of Alienation." American Sociological
Review Volume 24. New York: University of Los Angeles.
Smajic, S. 2010. Ghost-seers, Detectives, and Spiritualists. Cambridge:
Cambridge University Press
Robert T. Tally, J. 2009. “Reading the original: Alienation, Writing, and Labor
in ‘Bartleby, the Scrivener’, in Bloom's Literary Theme's: Alienation. New
York: Bloom's Literary Criticism.

4 komentar

Write komentar
mentaripagiku
AUTHOR
Mei 02, 2014 delete

boleh ngga skripsi anda saya jadikan review buat skripsi saya?

Reply
avatar
arvibie
AUTHOR
Mei 08, 2014 delete

kalau untuk dijadikan bahan utk referensi, silakan saja

Reply
avatar
Anonim
AUTHOR
Oktober 12, 2014 delete

dalam cerita the ghost at trial anda mengatakan bawah Narator menjadi teralienasi karena dirinya digunakan oleh sesuatu yang asing
(hantu) untuk mencapai tujuan yang asing pula.
bisakah anda buktikan atau tujukan kepada saya dimana letak penguatan dari ulasan anda atau semacam quatation ? mohon bantuannya terimkasih

Reply
avatar
arvibie
AUTHOR
November 17, 2014 delete

mengapa saya berasumsi bahwa narator teralienasi dalam cerita the trial for murder? menurut cerita dickens, karena ia adalah juri yang paling sering melihat hantu (korban yg dibunuh) bahkan semenjak ia dipilih sebagai salah satu juri pengadilan ia pertama kali melihat hantunya “I saw it open, and a man look in,… That man was the man who had gone
second of the two along Piccadilly, and whose face was of the colour of
impure wax. The figure, having beckoned, drew back, and closed the
door… and I did not see it there…’ O Lord, yes, sir! A dead man
beckoning!’” (Dickens, 1865: 84).
Kemudian, The murdered man atau hantu dalam karya ini, selalu muncul
dihadapan narator ketika persidangan atas kasus pembunuhannya berlangsung.
Semoga membantu...

Reply
avatar