Lesson: Good or Bad? Who is Actually Looking at You?

1/24/2013 06:50:00 AM 0 Comments A+ a-






Pelajaran dari kajian hari ini adalah tentang sifat baik dan buruk, serta terpuji dan tercela. Keempat istilah tersebut memang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan ini, tentu saja, kadang-kadang kita secara sadar maupun tidak, sering melakukan perbuatan dengan predikat tersebut. Dua pasang istilah tersebut memang berlawanan secara maknanya. Maka otomatis, perbuatan yang melekat dengan predikat istilah itu pun akan jauh berbeda, tergantung siapa yang memandang.

Sebuah predikat layak disandingkan pada suatu perbuatan tertentu dalam kehidupan kita, entah itu baik atau buruk, dan terpuji atau tercela. Orang masa kini berpandangan, predikat yang melekat pada suatu perbuatan tertentu menjadi relatif di mata orang. Bahkan pujian seseorang untuk menilai suatu perbuatan atau pun barang menjadi sangat penting di hampir kebanyakan orang pada saat ini. Inilah sebuah tipu daya yang kadang menjebak manusia kepada kehidupan yang jauh dari realita. Realita yang saya maksudkan di sini adalah kita sebagai seorang Muslim kadang terjebak dengan predikat baik, buruk, terpuji, atau tercela, ketika kita sebagai manusia yang lemah memberikan predikat tersebut secara ‘polos’ karena naluriahnya manusia yang penuh dengan hawa nafsu, lemah dan juga terbatas. 
Manusia kadang memandang segala sesuatu yang dicintainya berarti itu adalah baik untuknya, sedangkan sesuatu yang tidak disukainya berarti buruk baginya. Tapi apakah demikian? Sebuah perbuatan sejatinya tidak memiliki muatan positif atau pun negatif (kok kaya magnet ya?), semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia di bumi ini sejatinya adalah netral, ia tidak bernilai baik atau buruk. Hanya saja ada unsur-unsur luar yang mempengaruhinya sehingga keberadaannya menjadi baik atau buruk di mata manusia.  Seperti misalnya, A sangat hobi berenang karena ia tahu renang dapat membuat tubuhnya menjadi sehat dan segar. Maka renang pun mendapat predikat baik dari si A, yang sangat menyukai kegiatan tersebut. Akan tetapi berbeda misalnya dengan si B, ia pernah melakukan kegiatan renang, tetapi suatu saat ia tenggelam, dan dari sanalah ia trauma untuk berenang kembali. Oleh karena itu, si B menjadikan renang itu adalah kegiatan yang buruk bagi dirinya. Begitulah suatu perbuatan dapat bergeser nilainya sesuai dengan unsur-unsur yang mempengaruhinya dan juga tujuan apa yang hendak ia capai dari perbuatan tersebut.
              
Sering kali juga, manusia terjebak pada pujian dari sesama manusia lainnya. Ambil saja sebuah contoh, berpakaian, misalnya seorang wanita berpakaian menarik (sebuah predikat).  Ia mengenakan gaun berwarna merah muda dengan panjang selutut dan tidak tanggung-tanggung memperlihatkan kemulusan kulitnya. Wajahnya pun dihiasi dengan riasan cantik. Sangat mempesona, bukan?! Sehingga predikat cantik dan menarik  dari orang yang melihatnya layak disematkan kepada wanita tersebut. Lalu bagaimana Allah memandang wanita tersebut? Apakah dia memang cantik di hadapan Allah? Atau justru Allah sangat membencinya? Padahal jelas, dalam Islam, Allah melarang wanita untuk tidak memperlihatkan auratnya kepada orang yang bukan muhrimnya. Pendapat siapakah yang lebih layak untuk kita ambil? So, think it by yourself! ;)
                 
Dalam Islam, seharusnya Muslim tidak berpandangan seperti yang demikian, karena telah ada ketetapan dari Allah swt. tentang setiap perbuatan. Hukum syara-lah yang pada akhirnya menjadi standar dalam melaksanakan suatu perbuatan. Seorang Muslim tidak boleh melandaskan akal dan logikanya, apalagi hawa nafsunya, untuk menilai suatu perbuatan, akan tetapi semuanya Allah sajalah yang menentukan. Banyak perbuatan yang mungkin kita tidak sukai, tetapi baik di mata Allah. Begitu pula sebaliknya, banyak perbuatan yang kita senangi dan kita cintai, tetapi ternyata Allah melaknatnya. Jadi pertanyaannya adalah siapakah yang lebih mengetahui urusan kita? Siapakah yang lebih baik memandang kita, apakah manusia ataukah Allah, Tuhan kita?! Absolutely, you know the answer, right?!