Ketika Fanatisme Menjadi Sebuah Ikatan, Cinta Kita untuk Siapa?!

6/02/2012 05:41:00 AM 0 Comments A+ a-



Tragedi berdarah terjadi di stadion Gelora Bung Karno minggu yang lalu. Tiga orang tewas dikeroyok ketika pertandingan Persija vs Persib berlangsung. Pengeroyokan karena adanya fanatisme supporter diduga menjadi penyebabnya.

Salah satu dari korban tewas tersebut adalah teman saya, Rangga Cipta Nugraha. Ia adalah teman SMA saya. Saya masih ingat ketika masih sekelas dengannya. Dia memang penggemar sejati Persib. Berbeda dengan saya yang sangat menyukai Arsenal pada saat itu. Dan saya tidak terlalu menyukai liga Indonesia. Ya, kami memang sama-sama menyukai sepak bola. Tanpa pernah saya duga, dia pergi meninggalkan dunia ini dengan kematian yang tragis. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik, kawan!

Atas kejadian itu, akhirnya saya memutuskan untuk sekedar share di blog saya ini mengenai masyarakat Indonesia yang dibutakan oleh fanatisme dunia sesaat. Tanpa memandang apapun, tanpa memihak siapapun, kebanyakan dari mereka dibutakan oleh fanatisme. Bagaimana Islam memandang ikatan yang tidak shahih itu?

kerusuhan menjadi ciri khas suporter fanatik

Biasanya rasa fanatik muncul ketika dikumpulkan bersama orang-orang yang memang memiliki sesuatu yang sama, contohnya seorang supporter sebuah tim sepak bola akan terbangun jiwa fanatiknya ketika ia dikumpulkan bersama orang yang memang bersama-sama mendukung tim yang sama. Tetapi memang tidak selalu fanatic. Rasa fanatic muncul ketika rasa cinta terhadap sesuatu itu berlebihan, sehingga ia bisa melakukan apa saja demi yang dicintainya itu. Ketika orang-orang yang fanatic ini dikumpulkan karena kecintaan mereka yang sama, maka hal itu akan menciptakan sebuah ikatan antar mereka.

Ada satu ikatan yang memenuhi kriteria diatas (yang terjadi diantara para supporter sepak bola). Ikatan itu dinamakan ikatan kebangsaan. Ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempat dimana ia hidup dan menggantungkan diri. Ikatan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ikatan Nasionalisme, yang merupakan ikatan yang paling lemah dan rendah nilainya. Ikatan ini dipenuhi dengan sifat yang emosional dan akan muncul ketika serangan atau ancaman terhadap negeri-negeri mereka berdatangan. Maka ikatan ini bernilai rendah sekali. (An-Nabhani, 1953: 39)

Ikatan assabiyah (nasionalisme, termasuk didalamnya ikatan yang ada dalam diri supporter fanatik) terjadi ketika taraf berfikir manusia itu lemah dan rendah. Ikatan ini bersifat emosional yang selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, yaitu untuk membela diri. Ikatan ini juga sifatnya sementara (temporal) yaitu muncul saat membela diri ketika datangnya ancaman tadi. Sedangkan jika dalam keadaan normal, ikatan ini tidak akan muncul. Oleh karena itu, ikatan ini tidak bisa dijadikan pengikat antar sesama manusia. (An-Nabhani, 1953:41)

Dari paparan Ustadz Taqiyyudin An-Nabhani tersebut bisa disimpulkan, bahwa ikatan yang terdapat dalam diri supporter fanatic termasuk ke dalam ikatan assabiyah. Hal ini dikarenakan terdapat ciri-ciri yang telah disebutkan diatas. Ikatan yang terdapat di dalam diri supporter fanatic untuk membela tim yang sama ini bersifat emosional, karena perasaannya muncul ketika ancaman itu datang. Misalnya, ketika Persib bertemu dengan lawan yang menjadi musuh bebuyutannya (mis. Persija), para supporter selalu terlibat dengan aksi kekerasan, yang tidak jarang, menyebabkan supporternya meregang nyawa. Karena mereka berpikir bahwa supporter lawan sama dengan musuh, musuh berarti harus dilawan. Hal ini menandakan tingkat berfikir mereka yang sudah lemah dan merosot. Berbeda halnya ketika Persib bertanding melawan klub lainnya yang tidak dicap sebagai musuh bebuyutan. Para supporter bersikap biasa saja. Hal ini menunjukkan ikatan ini bersifat temporal atau sesaat.

Selain itu, dengan adanya tragedy ini dan tragedy-tragedi kekerasan lainnya, menandakan bahwa mereka mengalami krisis identitas. Masyrakat Indonesia yang mayoritasnya Muslim, sudah sepatutnya memoles diri mereka dengan keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta, Allah swt. Ketika diri seorang Muslim berhias diri dengan bekal keimanan yang kokoh, sudah pasti tragedy tersebut tidak akan terjadi, karena seorang Muslim yang taat pada Tuhannya, sudah pasti akan takut ketika ia melakukan kemasiyatan. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia sekarang lepas dari identitas mereka sebagai seorang Muslim. Bukankah ummat Muslim itu ibarat satu tubuh? Ketika ada bagian tubuh yang terluka, maka anggota tubuh lainnya pun ikut merasakan sakitnya? Bahkan, nyawa seorang Muslim itu lebih berharga daripada runtuhnya Ka’bah! Ketika mereka memahami hal itu, sudah pasti hal tersebut tidak akan pernah terjadi, karena sesama muslim adalah saudara.

Sungguh ironis! Kecintaan manusia diberikan kepada bukan yang selayaknya. Cinta mereka menjadi buta dan silau oleh dunia yang sesaat ini. Cinta mereka dibesar-besarkan tapi tidak ditempatkan pada tempat yang layak. Sudah sewajibnyalah untuk seorang Muslim, cinta itu diberikan kepada yang menciptakan rasa itu, Allah swt. Tidaklah rugi memberikan cinta kita sepenuhnya untuk Allah semata, justru cinta itu bersambut dengan kebaikan yang akan diberikan oleh sang Pemilik Cinta. Sudah seharusnya, cinta kita itu kita buktikan dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, menerapkan aturan-aturan yang dibuat-Nya. Hingga cinta itu akan berbalas kebaikan baik di dunia, maupun di akhirat nanti.
Wallahualambisshawab


Referensi:
An-Nabhani, Taqiyyudin. 2010. Peraturan Hidup dalam Islam (Penerjemah, Abu Amin, dkk). Jakarta: HTI Press.