BACA: Investasi Terbaik Bagi Pengemban Dakwah

6/23/2013 12:35:00 AM 0 Comments A+ a-

Oleh: Felix Siauw 
Dalam hidup saya, saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang hebat atau super hebat. Beberapa orang menginspirasi saya dengan caranya sendiri-sendiri. Terkadang orang-orang semacam ini membuat saya berfikir: “Bagaimana mereka bisa menjadi seperti ini?”. Akhirnya setelah melihat kesamaan pada mereka semuanya saya bisa menyimpulkan satu hal yang sederhana: “Mereka sama-sama punya perpustakaan pribadi”.
Membaca adalah suatu aktivitas yang istimewa, bahkan Allah swt telah menegaskannya dalam ayat pertama yang dia turunkan dalam al-Qur’an. Dan Allah menurunkan ayat pertama ini dalam bentuk perintah, Iqra’ – Bacalah!. Ini menandakan bahwa Allah betul-betul mewajibkan kaum muslim untuk “membaca” yang pada akhirnya akan membuatnya mendapatkan Allah swt sebagai Tuhannya dan Islam sebagai agamanya.
Ada suatu ungkapan yang menyatakan “Membaca adalah kunci keberhasilan di sekolah (Reading is the key to success in school). Ungkapan ini dibahas secara menarik dalam buku “The World Book student Handbook”. Dalam bab “Why is Reading Important” dibahas tentang sekelompok guru di Amerika Serikat yang mengadakan penyelidikan tentang murid sekolah dan problema belajar. Salah satu kesimpulan mereka yang menarik adalah:
bahwa seorang murid yang tidak berhasil dalam suatu bidang tertentu umpamanya matematika, masih bisa berhasil dalam bidang studinya yang lain. Tetapi seorang murid yang malas membaca hampir selalu tidak berhasil dalam semua bidang studinya.
Kita memang tak perlu lagi diingatkan dengan hal yang seperti ini karena al-Qur’an sebenarnya telah mendorong ummatnya secara luar biasa untuk membaca. Tapi sayangnya, tidak semua orang khususnya muslim yang benar-benar sadar pentingnya aktivitas membaca ini. Dan seringkali mengesampingkan aktivitas ini. Data BPS (2006) memberikan kita informasi bahwa orang Indonesia lebih suka menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).

Berdasarkan hasil survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di Asean. Sementara, menurut survei yang dilakukan terhadap 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Belum lagi fakta bahwa surat kabar di i Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1:30 dan di Sri Lanka angkanya 1:38. Bahkan meminjam buku di perpustakaan pun hanya dilakukan oleh 10-20% rakyat Indonesia.
Pahit memang, menyaksikan Indonesia yang sebagian besar adalah muslim, tetapi ternyata masih sangat jauh minat bacanya, padahal al-Qur’an telah memberikan indikasi yang sangat jelas bahwa Allah memberikan pengetahuan kepada manusia melalui perantaraan kalam.
Teringat masa kecil sebelum saya meninggalkan kejahiliyahan, buku adalah teman dekat saya. Kamar saya tak ubahnya seperti rental komik, dan 90% uang jajan saya habis untuk membeli buku komik. Ketika SMP-SMA, saya mulai membaca novel dan buku-buku semacam Sherlock Holmes, Lupus, ataupun novel tulisan Enid Blyton, R.L. Stine dan semua novel fiksi. Ketika menjadi seorang muslim, saya sangat memahami bahwa saya tidak seperti yang lain, saya tidak memilki pengetahuan dasar dalam Islam sebagaimana yang lain. Maka strategi saya adalah: “Lebih baik nggak makan daripada gak punya buku”.
Walhasil, ketika mahasiswa saya memiliki perpustakaan pribadi kecil-kecilan. Walaupun sebagian buku saya tidak pernah saya baca hingga tuntas. Betul, memiliki buku yang banyak tidak menjamin kita membacanya hingga tuntas, tetapi setidaknya kita telah menjadikan kesempatan besar bagi diri kita sendiri untuk membaca. Logikanya, jika ada buku saja susah membaca apalagi nggak ada.
Sama faktanya yang saya temukan ketika saya berdakwah lewat dunia maya. 80% pertanyaan yang ditanyakan lewat inbox message atau mail saya diakibatkan oleh orang yang bertanya tidak mau dan malas membaca!. Padahal jawabannya sudah sangat jelas sekali jika mereka mau membaca. Tetapi kebanyakan dari kita memang malas membaca, karena budaya makan mi instan, maka pengetahuan pun ingin instan.
Tidak semua orang yang membaca buku akan menjadi besar, tetapi semua orang besar rajin membaca buku. Setiap orang-orang yang istimewa dalam hidup say apasti memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya. Dan Islam tahu betul fungsi perpustakaan ini seperti apa. Pada tahun 830, Khalifah Harun ar-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah, perpustakaan Baghdad yang berisi lebih dari 1.000.000 literatur.

Ja’far bin Muhammad (940 M) mendirikan perpustakaan di Mosul yang sering di kunjungi para ulama baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan mendapat segala alat yang diperlukan (pena, tinta, kertas dll) secara gratis. Bahkan Seperti yang dikatakan oleh Al Hakim Al Mustansir bahwa tentara Mongol menghancurkan Baghdad, jutaan buku dibuang ke sungai Tigris yang membentuk semacam “jembatan mengapung”. Inilah perhatian Islam terhadap perpustakaan dan buku.

Sepertinya tidak salah apabila leluhur kita mengatakan: “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku”. Dan Dr. Mustafa Ashi Bai’ menasihati kita dengan kata-katanya :
. . . Ziarahlah ke perpustakaan sehari sekali, supaya engkau tahu karunia akal yang Allah berikan kepadamu . . .
Cobalah tumbuhkan minat baca kita, karena membaca adalah aktivitas yang harus ada pada seorang hamilud dakwah. Kebiasaan membaca tidak akan kita peroleh apabila minat membaca kita masih rendah. Dan minat tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali dengan rangsangan. Yaitu adanya buku di rumah. Membeli buku tidak akan merugi, karena itu adalah investasi terbaik. Cobalah rutin membaca setelah shubuh 30 – 60 menit dan rasakan bedanya setelah satu bulan.


Felix Siauw adalah Islamic Inspirator
source :http://www.spirithaji.com/inspirasi/3021-baca-investasi-terbaik-pengemban-dakwah.html 

Yup, membaca adalah salah satu kunci sukses bagi para pengemban dakwah. Bisa dibayangkan apa jadinya ketika para pengemban dakwah tidak suka bahkan tidak pernah membaca, apa yang akan ia sampaikan kepada umat yang membutuhkan bimbingannya?
Selalu ada hikmah atau pelajaran dari setiap apa yang kita baca. Semakin banyak kita membaca, semakin kaya ilmu pengetahuan kita, semakin handal kita untuk menyampaikan dakwah.
Ayo, membaca dan belajar untuk investasi buku dari sekarang! :D