Selasa, Februari 04, 2014

The Civil Wars - Dust to Dust




be careful, maybe you're not just who you are
you're only in disguise to claim that you're perfect
no, you're just a dust
that fly away where the wind blows
you're just being lonely, too long
so lonely too long


Rabu, Januari 22, 2014

Pelegalan Miras, Pemerintah Undang Azab Allah


berbagai miras dijual di mini market

Setelah naiknya harga elpiji 12 kg, pemerintah kembali membuat aturan yang tidak pro-rakyat, yaitu pelegalisasian miras. Presiden menandatangani Perpres No. 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Dengan peraturan itulah minuman beralkohol (mihol) boleh kembali beredar sebagai barang yang terkategori dalam pengawasan. Dalam Pasal 3 ayat 3: “Pengawasan sebagaimana dimaksud meliputi pengawasan terhadap pengadaan minuman beralkohol dari produksi dalam negeri atau asal impor serta peredaran dan penjualannya.” Ini berarti meskipun mihol diawasi peredaran dan penjualannya, tetapi masyarakat akan mudah menemukan mihol di mana saja. Pasalnya, tanpa Perpres ini pun, masyarakat masih bisa menemukan mihol dimana saja. 

Perpres itu menggolongkan mihol dalam tiga golongan, yaitu golongan A (kadar etanol sampai dengan 5%), golongan B (5-20%),  dan golongan C (20-55%).  Menurut Perpres ini, mihol hanya boleh diproduksi oleh pelaku usaha yang telah memiliki izin usaha industri Menteri Perindustrian. Peredaran mihol juga hanya dapat diedarkan jika telah mengantongi izin dari Kepala BPOM Kemenkes. Sedangkan yang dapat memperdagangkan mihol ini adalah pelaku usaha yang sudah memiliki izin untuk memperdagangkan mihol dari Menteri Perdagangan. 

Untuk tempat penjualan mihol sendiri, untuk mihol golongan A, B, dan C hanya dapat dijual di hotel, bar, dan restoran yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan parawisata, toko bebas bea, dan tempat-tempat yang ditentukan oleh Bupati/Walikota dan Gubernur untuk DKI Jakarta. Selain itu,  mihol golongan A juga ternyata dapat dijual di toko pengecer dalam bentuk kemasan.  Jadi, secara umum, perpres ini telah melegalkan mihol (khamr). 

Adanya perda-perda syariah anti miras di sejumlah wilayah Indonesia tentunya akan bertubrukan dengan perpres ini, artinya perda syariah anti miras akan diatur ulang agar sesuai dengan perpres. Presiden sendiri mengklaim bahwa adanya perpres ini adalah untuk melindungi masyarakat, karena banyaknya korban akibat miras oplosan. Namun, yang justru terjadi dengan adanya perpres ini malah akan membuka pintu kerusakan. Masyarakat pun semakin resah, karena kerusakan sudah terlalu banyak terjadi dimana-mana akibat adanya miras, apalagi mihol yang sudah dilegalkan ini. 

Tentu Muslim sangat mengetahui bagaimana hukum khamr di mata Allah. Hukum mihol (khamr) adalah haram. Nabi Saw memperingatkan: “Khamr itu adalah induk keburukan dan siapa meminumnya, Allah tidak menerima sholatnya 40 hari. Jika ia mati dan khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah.” (HR ath-Thabrani, ad-Daraquthni, al-Qadha’iy) 

Islam dengan jelas telah mengharamkan  khamr. Selain itu, terkait khamr ada sepuluh pihak yang dilaknat. Dari Anas bin Malik bahwa Rasul saw bersabda: “Rasulullah saw melaknat dalam hal khamr sepuluh pihak: yang memerasnya, yang diperaskan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan, yang menuangkan, yang menjualnya, yang memakan harganya, yang membeli dan yang dibelikan.” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Hadits ini mengindikasikan bahwa seluruh pihak yang terlibat dengan khamr akan mendapat laknat dari Allah swt. Termasuk pun dengan pemerintah yang telah melegalkan khamr ini, padahal penduduknya bermayoritaskan Muslim. Perpres ini sangat menentang hukum Allah, bahkan mengundang azab Allah karena kemaksiatan telah nyata tersebar. Masyarakat pun semakin risau, karena kemaksiyatan semakin merajalela.Oleh karenanya, dibutuhkan kebijakan atas penerapan hukum Islam dalam Khilafah Islamiyah, sehingga peraturan semacam ini dihilangkan, bahkan sanksi terhadap pelaku yang berhubungan dengan khamr dihukumi secara tegas. Wallahu’alam bisshawab

Dimuat di http://www.suara-islam.com/read/index/9684/Pelegalan-Miras--Pemerintah-Undang-Azab-Allah

Sabtu, Januari 18, 2014

Naiknya Harga Elpiji Menambah Penderitaan Rakyat

                 

Awal tahun 2014 ini, rakyat dikejutkan dengan naiknya harga tabung elpiji 12 kg. Sebab, kenaikan harga dari Rp 85ribu/ tabung menjadi hampir kurang lebih Rp 14 rb/tabung jelas sangat mencekik rakyat. Kenaikan harga yang diumumkan oleh Pertamina ini pun mengundang protes dari menteri-menteri terkait, dan juga Presiden. Presiden SBY pun turun tangan setelah kenaikan harga ini diumumkan, ia meminta kepada Pertamina untuk meninjau ulang kenaikan harga elpiji tersebut karena dinilai akan semakin mencekik rakyat. Hingga akhirnya, Pertamina pun merevisi kenaikan harga menjadi Rp 89ribu/kg sampai Rp 120rb/kg. Jika kita perhatikan, meskipun Pertamina telah merevisi harga kenaikan tabung elpiji, tetap saja ini menambah beban penderitaan rakyat. Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah justru menghentikan kenaikan harga ini. Bahkan di sejumlah wilayah di Indonesia, harga gas elpiji tetap melambung tinggi dengan alasan para distributor telah membeli tabung elpiji 12kg dengan jumlah yang besar, sehingga akan merugikan jika dijual dengan harga revisi.

Jika kita lihat posisi Pertamina pada saat ini, seolah-olah mereka menjadi satu-satunya yang tertuduh bersalah atas kenaikan harga yang terjadi. Padahal, pemerintah pun tentunya punya andil besar, apalagi Pertamina telah dilepas oleh pemerintah sehingga menjadi sebuah korporat, mereka pun bersaing ketat dengan perusahaan migas-migas lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Seharusnya pemerintah bisa menggagalkan kenaikan harga elpiji tersebut jauh-jauh hari. Anehnya,  pemerintah malah baru bertindak ketika harga telah naik, dan mereka bertingkah seolah pahlawan kesiangan bagi rakyat. Akan tetapi percuma saja, meskipun Pertamina telah merevisi harga, rakyat akan tetap menjerit karena kenaikan harga tidak hanya terjadi di satu aspek saja. Kenaikan harga terjadi hampir di semua aspek, apalagi ditambah dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dollar semakin membuat harga-harga barang tidak terkendali.

Apa yang salah? Tentunya kebijakan yang dibuat oleh penguasa negeri ini telah menyeret rakyat pada penderitaan yang tiada akhir. Kebijakan penguasa yang lebih pro asing/swasta membuat Indonesia, sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alam, semakin terjajah. Selain itu, kejahatan sebenarnya adalah di tangan pemerintah dan ekonom negeri ini yang membiarkan sistem ekonomi liberal berkuasa. Termasuk membiarkan hajat hidup orang banyak – seperti migas – dikuasai asing, dan tidak diberikan manfaat sebesar-besarnya kepada rakyat. Pemerintah dalam sistem ekonomi liberal memang tidak memposisikan diri sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Karena berlaku prinsip survival of the fittest. Hanya yang kuat yang bertahan. Jadi tak ada hubungan ri’ayah (pelayanan) dari negara kepada publik. Tragisnya lagi, pemerintah lebih mempertahankan kebijakan mengekspor gas alam dalam jumlah besar ke luar negeri, membiarkan negeri ini defisit gas. Dan yang paling tidak waras, harga jual gas ke negara lain jauh lebih murah ketimbang harga jual ke rakyat sendiri. Produksi gas alam dari blok Tangguh ke Cina diobral habis-habisan. Harga gas ke Fujian China hanya US$ 3,45 per MMBTU, sementara harga gas ekspor Indonesia ke luar negeri di atas US$ 18 per MMBTU sedangkan harga gas domestik US$ 10 per MMBTU. Artinya harga gas untuk warga Cina di RRC hanya seperempat harga gas untuk rakyat sendiri. Beruntunglah rakyat RRC karena mereka hidup makmur disubsidi oleh pemerintah Indonesia.

Itulah yang terjadi di negeri-negeri yang menganut kapitalisme. Padahal sesungguhnya, jika kita merunut pada sistem syariat Islam, maka migas itu adalah milik rakyat yang wajib dikelola oleh pemerintah dan tidak boleh diserahkan kepada swasta apalagi asing. Pemerintah wajib untuk melayani kebutuhan masyarakatnya, sehingga jika digunakan sistem syariah maka harga elpiji semacam ini akan mudah dan murah didapatkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, sudah saatnya kita terapkan Islam di bumi Allah ini, karena hanya dengan Islam yang diterapkan secara menyeluruh itulah seluruh umat akan merasakan kesejahteraan yang nyata, yaitu dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu’alam bisshawab

Jumat, Januari 17, 2014

Surrounded by the Winter

The shadow was too clear to be seen
Reflected on the frozen water
The sky was too dark to be gazed
Stood above a sinned creature
Ashen haze covered the lonely soul
Tortured it with an annual mourning
of the continuous suffering 
Cumulus were too tough to be penetrated
Exhaled the coldest wind
Frost of the heat spirit which newly arose
The whisper of the shadow 
kept whiling of the emptiness 
Frighten hope that was just woken
Is this another falsity from the ancient feeling?
See of  the reflection of the soul and mind
They are surrounded by the coldness of winter
This chill, none will never know when it comes to the end
The fake whisper keep blowing in mind
When does the light come to melt this frost?
Starlight, moonlight, sunlight....
Do they come to end this suffering?
Do they come to end this winter?
Or will one of them do this?
Yes, one will...


Sabtu, November 30, 2013

My Journal: Ghost as Manifestation of Alienation in Charles Dicken's Fictions

Karena bingung ingin posting apa, jadi saya akan posting jurnal skripsi saya. :)
Kenapa hantu? Karena hantu adalah simbol alienasi yang terjadi pada masa Victoria atau Eropa pada abad ke-19. Sedangkan alienasi terjadi akibat kapitalisme. Check this out!




Hantu sebagai Manifestasi Alienasi dalam Fiksi Karya Charles Dickens


Abstract
Charles Dickens was a writer in Victorian period. He had been famous
with his works even until now, he also wrote many ghost stories in his life. In this
research, it’s seen how ghost in Dickens’ stories are related to concept of
alienation, both of Marx and Seeman. This research aims to study the narrative
elements which experiences alienation and can be as well categorized as ghosts.
The kind of alienation experienced by the ghosts is then analyzed. As a
consequence, the study will show how the ghosts become the manifestation of
alienation in Charles Dickens’ works.

Keywords: Ghost, Alienation


Abstrak
Charles Dickens adalah salah satu penulis era Victoria. Ia terkenal dengan
karya-karya besarnya hingga sekarang, termasuk juga dengan cerita hantu dalam
karyanya. Dalam penelitian ini, terlihat adanya hubungan antara hantu yang
disajikan oleh Dickens dengan konsep alienasi yang dicetuskan oleh Marx dan
Seeman. Penelitian ini dilakukan untuk melihat unsur-unsur yang mengalami
alienasi dan dapat dikategorikan sebagai hantu, serta macam-macam alienasi yang
muncul dalam penelitian ini, sehingga akan terlihat hubungan antara unsur-unsur
yang terkategori sebagai hantu dengan alienasi yang terjadi pada unsur-unsur
tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terlihat bahwa hantu merupakan
manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.
Kata Kunci: Hantu, Alienasi

Pendahuluan

Dalam tiga fiksi karya Charles Dickens, yaitu A Christmas Carol, Three
Ghost Stories, dan The Haunted Man and the Ghost’s Bargain tampak adanya
unsur alienasi yang berkaitan dengan konsep hantu yang terdapat dalam masingmasing
karya.

Hantu dalam karya Charles Dickens memiliki penggambaran yang unik
dan berbeda, karena hantu yang dimunculkan tidak selalu dalam bentuk dalam
artian yang sebenarnya, tetapi dapat pula hantu dalam artian lain. Hantu menurut
Guiley (1992) adalah “the spirit, image, or presence of dead”, ini merupakan
hantu dalam artian sebenarnya, yang berarti ruh yang mengalami kematian
kemudian kembali ke dunia. Sedangkan hantu dalam artian tidak sebenarnya
adalah sesuatu tidak terlihat tetapi berpengaruh pada kehidupan manusia (Smajic,
2010: 16).

Selain itu, hantu yang disajikan oleh Dickens dalam karya-karya tersebut
berkaitan pula dengan konsep alienasi. Teori mengenai alienasi yang dipakai
dalam penelitian ini ada dua, yaitu konsep alienasi Marx yang dibahas oleh Erich
Fromm dan Bertell Ollman, yang lebih menekankan pada konsep kerja dan
aktivitas para buruh dan kaitannya dengan produk dan juga dengan manusia
lainnya, serta konsep alienasi Melvin Seeman sebagai pengembangan teori
alienasi Marx yang lebih memfokuskan pada segi psikologi-sosial yang erat
kaitannya dengan hubungan sosial masyarakat serta hasrat dan harapan bagi
manusia itu sendiri.

Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode strukturalisme dalam
meninjau dan menganalisis unsur-unsur yang menjadi topik penelitian ini, yaitu
hantu dihubungkan dengan konsep alienasi. Metode strukturalisme adalah metode
untuk mengetahui bagaimana sesuatu yang ada dibangun oleh struktur-struktur
sehingga akan menjadi satu kesatuan (Hudayat, 2007). Dengan menganalisis
unsur intrinsik yang terdapat dalam karya tersebut, seperti alur, penokohan, dan
tempat, serta melihat persamaan-persamaan yang terdapat dalam tiga karya
tersebut, maka akan terlihat struktur yang terbangun, yaitu kaitan antara hantu dan
alienasi dilihat dari gejala-gejala teks yang terjadi.
Dengan mengkaitkan topik pada penelitian ini dengan teori yang dibahas
maka akan terlihat bagaimana hantu dalam karya Dickens menjadi manifestasi
alienasi, baik dalam hubungannya dengan manusia, produk, aktivitas, maupun
dengan dirinya sendiri.

Pembahasan

Hantu dalam karya Dickens memiliki keunikan tersendiri, karena terdapat
berbagai macam hantu dengan penggambaran yang berbeda dalam setiap
karyanya. Saya mengklasifikasikan hantu dalam karya Dickens menjadi dua jenis,
yaitu hantu simbolik dan hantu non-simbolik. Hantu simbolik adalah sesuatu atau
unsure-unsur yang memiliki ciri-ciri seperti hantu sebenarnya atau sesuatu yang
dapat disimbolkan seperti hantu, sedangkan hantu non-simbolik adalah hantu
dalam artian sebenarnya, yaitu ruh yang bergentayangan.
Dalam A Christmas Carol, hantu Marley menjadi fokus pada pembahasan
ini. Hantu Marley merupakan hantu non-simbolik yang teralienasi dari dirinya
yang merupakan hantu bergentayangan. Bagi Marx, konsep alienasi ini didasarkan
pada perbedaan eksistensi dan esensi, dan fakta alienasi bahwa eksistensi manusia
teralienasi dari esensinya (Fromm, 2001: 62). Dalam kasus Marley, eksistensi
dirinya terlepas dari esensinya sebagai jiwa yang telah mati, bahwa seharusnya
setelah mati ia mendapatkan kedamaian di alam lain, bukan bergentayangan.
Dalam kasus alienasi lainnya, tokoh Scrooge (manusia) dapat merepresentasi
Marley. Hal ini ditunjukkan ketika hantu Marley mendatangi Scrooge dan
meminta tolong agar ia membebaskan dirinya yang terbelenggu rantai. Ketika
Scrooge dapat terlepas dari keteralienasiannya, maka Marley akan selamat.
Scrooge memiliki ciri-ciri yang lebih dekat seperti hantu daripada manusia,
sehingga saya mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik. Ia tidak memiliki
harapan yang jelas dalam hidupnya, dan ia pun hidup jauh dari masyarakat
lainnya. Hal ini berkaitan dengan konsep alienasi Seeman, bahwa seseorang
dikatakan teralienasi jika ia tidak dapat mengetahui harapan hidupnya sendiri dan
ia terpisah dari masyarakat (Seeman, 1959: 784-788)

Aktivitas Scrooge merepresentasikan Marley ketika ia masih hidup.
Mereka memiliki firma dengan nama Scrooge and Marley, dengan nama ini pula
masyarakat dalam cerita tersebut selalu menganggap mereka sama saja. Scrooge
merupakan pemilik dan pekerja dalam perusahaannya tersebut. Ia adalah orang
yang sangat pekerja keras bahkan ketika Natal tiba, ia masih mewajibkan
pegawainya untuk tetap bekerja. Dalam hubungannya dengan manusia lainnya,
maka Scrooge teralienasi, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas
kerjanya, semakin sedikit pula waktu untuk bersama dengan orang lain, sehingga
ia teralienasi dari masyarakat yang memang sudah membencinya, karena sikapnya
yang kikir dan sombong atau menurut Seeman, ia melanggar nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat untuk mencapai tujuannya atau disebut dengan istilah
normlessness (Seeman, 1959: 788).

Dalam Three Ghost Stories, hantu yang terdapat pada karya ini berbedabeda,
baik dalam penggambarannya maupun penampilannya. Dalam The
Signalman, tokoh he menjadi fokus dalam cerita ini. Saya mengketegorikannya
sebagai hantu simbolik, karena pendeskripsian tokohnya yang mirip seperti hantu
dan tempat tinggalnya yang mirip seperti kuburan. Tokoh he merupakan seorang
pemberi sinyal kereta, yang berarti bahwa dia adalah termasuk kedalam kelas
pekerja. menurut Marx, kelas pekerja adalah kelas yang paling teralienasi
(Fromm, 2001: 73). Hal ini karena aktivitas mereka tersekat-sekat sehingga
mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menentukan kekuasaan atas dirinya.
Begitu pula dengan signalman, dia hanya bekerja sebagai pemberi sinyal saja.
Konsekuensi dari pekerjaannya itu adalah ia ditempatkan di tempat yang sesuai
dengan aktivitasnya itu, meskipun pada akhirnya ia menjadi teralienasi, baik dari
aktivitasnya, orang lain, maupun dirinya sendiri. Ia pun tinggal jauh dari tempat
tinggal masyarakat lainnya sehingga ia mengalami social-isolation (Seeman,
1959:788), sebagai konsekuensi ia bekerja sebagai seorang pemberi sinyal.

Kemudian, dalam The Haunted House, rumah berhantu ini menjadi fokus
cerita dalam pembahasan ini. Rumah yang merupakan sebuah tempat tinggal
dikategorikan menjadi sebuah hantu simbolik. Rumah ini menjadi sebuah tempat
yang menakutkan bagi masyarakat di sekitarnya, ia terlepas dari esensi yang
sesungguhnya yaitu yang seharusnya menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk
ditinggali dan tempat untuk berlindung bagi sebuah keluarga. Oleh karenanya,
rumah itu teralienasi. Selain itu, tempatnya terdapat di lingkungan yang jauh dari
tempat tinggal masyarakat lainnya, sehingga rumah itu menjadi apartness from
society (Seeman, 1959:788), karena dijauhi oleh masyarakat sekitarnya, rumah itu
mengalami social isolation. Hantu-hantu (non-simbolik) itulah yang membuat
rumah itu menjadi teralienasi, sehingga peran hantu non-simbolik pada rumah ini
adalah sebagai pengalienasi bagi rumah tersebut.

Dalam The Trial for Murder, yang menjadi fokus adalah the murdered
man yang merupakan hantu non-simbolik yang mengalienasi narator (I). Hal ini
didasarkan pada hantu the murdered man selalu muncul dihadapan narator yang
merupakan juri persidangan atas kasus pembunuhan dirinya, sehingga narator
dapat melihatnya, sedangkan juri persidangan yang lain tidak dapat melihatnya.
Narator menjadi teralienasi karena dirinya digunakan oleh sesuatu yang asing
(hantu) untuk mencapai tujuan yang asing pula. Hal ini seperti yang diungkapkan
Fromm dalam konsep alienasi Marx, bahwa kasus ini seperti yang terjadi pada
seorang buruh, dimana keberadaannya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan si
majikan buruh tersebut. Buruh bekerja dan kemampuannya menjadi terbatas
karena majikannya yang telah mengatur bagian-bagian kerja buruh tersebut.
Padahal seharusnya, manusia itu seharusnya mencapai tujuan dalam dirinya
sendiri, bukan digunakan untuk menjadi alat mencapai sebuah tujuan (Fromm,
2001: 70). Kemampuan asli narator dalam persidangan ini menjadi terbatas,
karena hantu tersebut menunjukkan bagaimana proses ia dibunuh dengan
menampakkan dirinya, sehingga narator menjadi teralienasi dari dirinya sendiri.
Terakhir, dalam karya The Haunted Man and the Ghost’ Bargain, tokoh
Redlaw menjadi tokoh sentral. Ia merupakan seorang chemist yang selalu
menghabiskan waktunya di dalam laboratoriumnya. Saya juga
mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik, karena dari pendeskripsian dirinya
seperti orang yang dihantui. Ia hanya dapat ditemui pada malam hari saja, selain
itu ia memiliki suara yang berat dan menyeramkan. Redlaw selalu dihantui oleh
masa lalunya yang menyedihkan, sehingga ia berasumsi bahwa kenangan masa
lalunya itu yang membuatnya tersiksa. Hantu non-simbolik pada karya ini adalah
Phantom, yang selalu menghantui Redlaw. Phantom dapat menjadi representasi
Redlaw karena digambarkan memiliki ciri-ciri yang sama, dan terdapat satu
adegan ketika mereka berbicara seperti sedang berkaca, sehingga baik Redlaw
maupun Phantom dapat merefleksikan satu sama lainnya,
Redlaw adalah seseorang yang teralienasi, meskipun ia adalah seorang ahli
kimia, ia banyak menghabiskan aktivitasnya di lab miliknya, sehingga hubungan
dirinya dengan masyarakat lainnya pun menjadi terbatas, dengan kata lain ia
mengalami social-isolation. Ia juga powerless atau tidak berdaya ketika
memutuskan sesuatu dan justru takdirnya berada di tangan yang lain (Seeman,
1959:784). Hal ini terjadi ketika phantom menawarkannya untuk melupakan
kenangan masa lalunya. Phantom merasa jika ia menjadi Redlaw, ia akan
melakukan hal itu, sehingga Redlaw pun menyetujui kesepakatan itu karena ia
juga merasa bahwa phantom itu lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Ia juga
mengalami self-estrangement yaitu ia teralienasi dari dirinya sendiri, ketika ia
telah lupa dengan masa lalunya, yang berarti bahwa ia telah terpisah dari dirinya
sendiri, karena ia telah menjadi sesuatu yang baru, seperti konsep alienasi Seeman
mengenai self-estrangement yang dikutip dari Fromm (1955) “By alienation is
meant a mode of experience in which the person experiences himself as an alien.
He has become one might say, estranged from himself”. Redlaw terpisah dari
dirinya sendiri, karena ia kehilangan sesuatu yang dia miliki.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, saya
menemukan bahwa tiga karya Charles Dickens yang dibahas dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa hantu, baik simbolik maupun non-simbolik, berkaitan
dengan alienasi yang dicetuskan oleh Marx melalui Fromm dan Ollman, serta
alienasi Seeman. Hal ini ditunjukkan melalui sikap dan aktivitas para tokoh dalam
karya-karya tersebut yang merupakan unsur-unsur yang penting dalam
membangun hubungan antara cerita dengan teori.
Hantu yang menjadi fokus dalam penelitian ini tidak selalu muncul dalam
artian sebenarnya, tetapi muncul pula dalam arti yang lain, sehingga unsur-unsur
(seperti tokoh manusia dan benda) yang memiliki deskripsi seperti hantu dapat
pula disimbolkan sebagai hantu. Unsur-unsur yang disimbolkan menjadi hantu ini
pun ternyata selalu berkaitan dengan alienasi. Jenis alienasi yang terjadi pada
tokoh yang difokuskan dalam cerita itu pun cukup rumit, karena baik konsep
alienasi Marx dan Seeman terdapat di dalamnya. Hal ini terlihat jelas ketika
aktivitas tokoh menentukan harapan hidupnya. Aktivitas yang dilakukan terlihat
bukan sesuatu yang muncul dalam dirinya sendiri, tetapi tuntutan dari sesuatu
yang asing itu, sehingga ia tidak dapat menentukan apa yang menjadi harapan
hidupnya. Oleh karenanya, tokoh manusia yang rata-rata menjadi hantu simbolik
dalam penelitian ini, hidupnya tidak jelas, dan keberadaan mereka layaknya hantu,
yang tidak mempunyai harapan. Dari aktivitas itu juga yang membuat mereka
diasingkan atau terasing dari orang lainnya, sehingga jelas mereka mengalami
alienasi. Sedangkan hantu non-simbolik, keberadaannya ada yang teralienasi
maupun menjadi pengalienasi. Jadi, baik hantu simbolik maupun non-simbolik
selalu berkaitan dengan alienasi. Sehingga, dari penelitian ini terlihat bahwa hantu
menjadi manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.


Daftar Sumber:
Fromm, E. 2001. Konsep Manusia menurut Marx. Terjemahan dari Marx’s
Concept of Man oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Schacht, R. 1970. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif. Terjemahan dari
Alienation oleh Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Percetakan Jalasutra.
Buku dan Jurnal Elektronik:
Coffey, N. 2004. "Every Word of it is True”: The Cultural Significance of the
Victorian Ghost Story. Department of English. Winnipeg, Mannitoba:
University of Mannitoba.
Derrida, J. 1993. Specters of Marx. New York: Routledge.
Dickens, C. 1848. The Haunted Man and The Ghost's Bargain. Feedbooks.
Dickens, C. 1843. A Christmas Carol. Planet PDF.
Dickens, C. Three Ghost Stories. Planet PDF.
Guiley, R. E. 1992. The Encyclopedia of Ghosts and Spirits. New York: Facts
on File Inc.
Handley, S. 2007. Visions of An Unseen World: Ghost Beliefs and Ghost
Stories in Eighteenth-Century England. London: Pickering & Chatto.
Hudayat, A. Y. 2007. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Fakultas Sastra,
Universitas Padjadjaran.
Ollman, B. 1971. Alienation: Marx's Conception of Man in Capitalist Society.
New York: Cambridge University Press.
Seeman, M. 1959. "On The Meaning of Alienation." American Sociological
Review Volume 24. New York: University of Los Angeles.
Smajic, S. 2010. Ghost-seers, Detectives, and Spiritualists. Cambridge:
Cambridge University Press
Robert T. Tally, J. 2009. “Reading the original: Alienation, Writing, and Labor
in ‘Bartleby, the Scrivener’, in Bloom's Literary Theme's: Alienation. New
York: Bloom's Literary Criticism.

Minggu, Oktober 13, 2013

Grown Up

Today was a lovely day, especially for my cousin. Why, because it was my cousin's wedding. She and I, actually, were different in 10 month of age. She was born in January 1990 and I was in October at the same year. So this day we have the same age, yes 23 years old. I'm very happy that she could met her prince and got married in her 23rd. Am I jealous? Haha... of course, lol :p, but maybe this time I haven't met my prince yet, not this time, but maybe soon, hehehe, aamiin~

Well, actually, I'm not going to talk about that, but for other thing I've realized when I saw all my cousins gathered in the wedding party. I realized something that maybe often appear in my thought, but I don't care for it. What is that? We've grown up!

Ten years ago or more, maybe my cousins and I were used to be together. We lived at the same place, in Balubur Bandung, at my grandmother's house. We were grown up together at that place happily. We used to  gather at the back room to play some games, such as monopoly, cards, computer, and so on. We used to make some jokes, pick up some jambu air, take a walk to Taman Ganesha in every weekend, go to the market and help my grandmother to cook, go to the mosque, swim at Karangsetra, have picnic in some places, and many more we used to do together.

But today, one of my cousins, have a marriage. Even, one of them has a daughter. Yes, we've grown up now, and every time we will grow up. The time goes so fast. I don't know what will happen in the next ten years. Maybe we will be together again, but in different situation. Maybe we will bring our beloved children, and we will talk as parents who tell the stories of our children, we will not play like we used to be, but maybe our children will do. Yes, maybe the future will be like that.

Aahhh~ I really miss my childhood time. The time when we're still together in the old house which now have gone because it had been renovated, and it doesn't belong to us anymore. The jambu air  was gone, the atmosphere of the old house was missing, and we're really missing the memories of our childhood. Because, we've grown up now. The life we choose will bring us to the path we have chosen. Maybe that old time was gone, but never with it's memories.

Rabu, Oktober 09, 2013

When Life should be Chosen


For the first time in my blog, I'm going to write about what happen to my mom. It has been three years that my mom is suffering breast cancer. At the first time she knew that she had that deadly sickness, there was a bump in her left breast. So, she decided to check it through biopsy, a medical test commonly performed by a surgeon or an interventional radiologist involving sampling of cells or tissues for examination (en.wikipedia.org/wiki/biopsy), took the sample of the cancer cell. However, it was getting worse after this took, my family decided that my mom should have a cancer surgery. My mom actually didn't feel well, she didn't want to have the surgery. But, a doctor, who is also my family, really suggested that if it was liked the only way to survive. Then, my mother went to hospital to do some procedures before she had a surgery. I didn't know why, but it was a long and complicated procedure. The doctor who gave an appointment with my mother didn't come. So my mother finally decided to cancel the surgery. My mother has decided to do some alternative therapies to heal herself from cancer.

As time goes by, my mother has some alternative therapies, such as drink soursop leaf tea, which is known as the best medicine for cancer, drink mangosteen juice, some herbs, sarang semut tea, eat more vegetables and fruits, and many more. We (me, my sisters, and my father) also should follow her diet. However, my mother becomes so sensitive. She's easy to get angry or annoyed if we do some mistakes. As the first daughter, I do almost household duties. My mother's condition is never stabil, sometimes looks healthy but other times she is weak. She becomes so resentful. So my father often tells us not to tell our problems to her.

Someday, my mother's condition became so weak, then I was afraid maybe my mother didn't have much time anymore. She was depressed because of her choice not to take the surgery. The doctor in my family really stressed that she must take it if she wanted to survive. And it really became her stressful topic in her mind. And one thing that made her really depressed that the doctor said if she still didn't take the surgery, she would die in 6 months later. Oh God! Why did he say that to his own cousin? It made me really mad, and of course all my family did. We'd tried to give her spirit, reliance, optimism, and hope, that she still has chance to survive. We never know when we will die, but we will someday, for sure. Not him who knew the answer when we will die, but HIM! Only HIM! Sometime, medical treatment is always be the first choice for people. So, maybe some doctors will be proud of their ability to cure sick people. However, sometime they forget that, who only can cure people is not them, but HIM up there. That should be remembered!

For now, my mother still commits what she has decided. She wears a kind of waistcoat for cancer therapy which invented by Dr. Wasito, in Tangerang. We should have great optimism that my mother will be recovered soon from her cancer. Although some people out there maybe furious why we do not decide to take the surgery, my mother keeps steadfast to face this all, and she still tries to get healthy again. Even she told me that she was grateful with this, because she can feel that she can be closer to HIM. Yes, I hope so. I hope that this sickness will abort all her mistakes, just like what Rasulullah (PBUH) had said. I can only hope the best for her.