Sabtu, November 30, 2013

My Journal: Ghost as Manifestation of Alienation in Charles Dicken's Fictions

Karena bingung ingin posting apa, jadi saya akan posting jurnal skripsi saya. :)
Kenapa hantu? Karena hantu adalah simbol alienasi yang terjadi pada masa Victoria atau Eropa pada abad ke-19. Sedangkan alienasi terjadi akibat kapitalisme. Check this out!




Hantu sebagai Manifestasi Alienasi dalam Fiksi Karya Charles Dickens


Abstract
Charles Dickens was a writer in Victorian period. He had been famous
with his works even until now, he also wrote many ghost stories in his life. In this
research, it’s seen how ghost in Dickens’ stories are related to concept of
alienation, both of Marx and Seeman. This research aims to study the narrative
elements which experiences alienation and can be as well categorized as ghosts.
The kind of alienation experienced by the ghosts is then analyzed. As a
consequence, the study will show how the ghosts become the manifestation of
alienation in Charles Dickens’ works.

Keywords: Ghost, Alienation


Abstrak
Charles Dickens adalah salah satu penulis era Victoria. Ia terkenal dengan
karya-karya besarnya hingga sekarang, termasuk juga dengan cerita hantu dalam
karyanya. Dalam penelitian ini, terlihat adanya hubungan antara hantu yang
disajikan oleh Dickens dengan konsep alienasi yang dicetuskan oleh Marx dan
Seeman. Penelitian ini dilakukan untuk melihat unsur-unsur yang mengalami
alienasi dan dapat dikategorikan sebagai hantu, serta macam-macam alienasi yang
muncul dalam penelitian ini, sehingga akan terlihat hubungan antara unsur-unsur
yang terkategori sebagai hantu dengan alienasi yang terjadi pada unsur-unsur
tersebut. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terlihat bahwa hantu merupakan
manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.
Kata Kunci: Hantu, Alienasi

Pendahuluan

Dalam tiga fiksi karya Charles Dickens, yaitu A Christmas Carol, Three
Ghost Stories, dan The Haunted Man and the Ghost’s Bargain tampak adanya
unsur alienasi yang berkaitan dengan konsep hantu yang terdapat dalam masingmasing
karya.

Hantu dalam karya Charles Dickens memiliki penggambaran yang unik
dan berbeda, karena hantu yang dimunculkan tidak selalu dalam bentuk dalam
artian yang sebenarnya, tetapi dapat pula hantu dalam artian lain. Hantu menurut
Guiley (1992) adalah “the spirit, image, or presence of dead”, ini merupakan
hantu dalam artian sebenarnya, yang berarti ruh yang mengalami kematian
kemudian kembali ke dunia. Sedangkan hantu dalam artian tidak sebenarnya
adalah sesuatu tidak terlihat tetapi berpengaruh pada kehidupan manusia (Smajic,
2010: 16).

Selain itu, hantu yang disajikan oleh Dickens dalam karya-karya tersebut
berkaitan pula dengan konsep alienasi. Teori mengenai alienasi yang dipakai
dalam penelitian ini ada dua, yaitu konsep alienasi Marx yang dibahas oleh Erich
Fromm dan Bertell Ollman, yang lebih menekankan pada konsep kerja dan
aktivitas para buruh dan kaitannya dengan produk dan juga dengan manusia
lainnya, serta konsep alienasi Melvin Seeman sebagai pengembangan teori
alienasi Marx yang lebih memfokuskan pada segi psikologi-sosial yang erat
kaitannya dengan hubungan sosial masyarakat serta hasrat dan harapan bagi
manusia itu sendiri.

Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode strukturalisme dalam
meninjau dan menganalisis unsur-unsur yang menjadi topik penelitian ini, yaitu
hantu dihubungkan dengan konsep alienasi. Metode strukturalisme adalah metode
untuk mengetahui bagaimana sesuatu yang ada dibangun oleh struktur-struktur
sehingga akan menjadi satu kesatuan (Hudayat, 2007). Dengan menganalisis
unsur intrinsik yang terdapat dalam karya tersebut, seperti alur, penokohan, dan
tempat, serta melihat persamaan-persamaan yang terdapat dalam tiga karya
tersebut, maka akan terlihat struktur yang terbangun, yaitu kaitan antara hantu dan
alienasi dilihat dari gejala-gejala teks yang terjadi.
Dengan mengkaitkan topik pada penelitian ini dengan teori yang dibahas
maka akan terlihat bagaimana hantu dalam karya Dickens menjadi manifestasi
alienasi, baik dalam hubungannya dengan manusia, produk, aktivitas, maupun
dengan dirinya sendiri.

Pembahasan

Hantu dalam karya Dickens memiliki keunikan tersendiri, karena terdapat
berbagai macam hantu dengan penggambaran yang berbeda dalam setiap
karyanya. Saya mengklasifikasikan hantu dalam karya Dickens menjadi dua jenis,
yaitu hantu simbolik dan hantu non-simbolik. Hantu simbolik adalah sesuatu atau
unsure-unsur yang memiliki ciri-ciri seperti hantu sebenarnya atau sesuatu yang
dapat disimbolkan seperti hantu, sedangkan hantu non-simbolik adalah hantu
dalam artian sebenarnya, yaitu ruh yang bergentayangan.
Dalam A Christmas Carol, hantu Marley menjadi fokus pada pembahasan
ini. Hantu Marley merupakan hantu non-simbolik yang teralienasi dari dirinya
yang merupakan hantu bergentayangan. Bagi Marx, konsep alienasi ini didasarkan
pada perbedaan eksistensi dan esensi, dan fakta alienasi bahwa eksistensi manusia
teralienasi dari esensinya (Fromm, 2001: 62). Dalam kasus Marley, eksistensi
dirinya terlepas dari esensinya sebagai jiwa yang telah mati, bahwa seharusnya
setelah mati ia mendapatkan kedamaian di alam lain, bukan bergentayangan.
Dalam kasus alienasi lainnya, tokoh Scrooge (manusia) dapat merepresentasi
Marley. Hal ini ditunjukkan ketika hantu Marley mendatangi Scrooge dan
meminta tolong agar ia membebaskan dirinya yang terbelenggu rantai. Ketika
Scrooge dapat terlepas dari keteralienasiannya, maka Marley akan selamat.
Scrooge memiliki ciri-ciri yang lebih dekat seperti hantu daripada manusia,
sehingga saya mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik. Ia tidak memiliki
harapan yang jelas dalam hidupnya, dan ia pun hidup jauh dari masyarakat
lainnya. Hal ini berkaitan dengan konsep alienasi Seeman, bahwa seseorang
dikatakan teralienasi jika ia tidak dapat mengetahui harapan hidupnya sendiri dan
ia terpisah dari masyarakat (Seeman, 1959: 784-788)

Aktivitas Scrooge merepresentasikan Marley ketika ia masih hidup.
Mereka memiliki firma dengan nama Scrooge and Marley, dengan nama ini pula
masyarakat dalam cerita tersebut selalu menganggap mereka sama saja. Scrooge
merupakan pemilik dan pekerja dalam perusahaannya tersebut. Ia adalah orang
yang sangat pekerja keras bahkan ketika Natal tiba, ia masih mewajibkan
pegawainya untuk tetap bekerja. Dalam hubungannya dengan manusia lainnya,
maka Scrooge teralienasi, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas
kerjanya, semakin sedikit pula waktu untuk bersama dengan orang lain, sehingga
ia teralienasi dari masyarakat yang memang sudah membencinya, karena sikapnya
yang kikir dan sombong atau menurut Seeman, ia melanggar nilai-nilai yang
berlaku dalam masyarakat untuk mencapai tujuannya atau disebut dengan istilah
normlessness (Seeman, 1959: 788).

Dalam Three Ghost Stories, hantu yang terdapat pada karya ini berbedabeda,
baik dalam penggambarannya maupun penampilannya. Dalam The
Signalman, tokoh he menjadi fokus dalam cerita ini. Saya mengketegorikannya
sebagai hantu simbolik, karena pendeskripsian tokohnya yang mirip seperti hantu
dan tempat tinggalnya yang mirip seperti kuburan. Tokoh he merupakan seorang
pemberi sinyal kereta, yang berarti bahwa dia adalah termasuk kedalam kelas
pekerja. menurut Marx, kelas pekerja adalah kelas yang paling teralienasi
(Fromm, 2001: 73). Hal ini karena aktivitas mereka tersekat-sekat sehingga
mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menentukan kekuasaan atas dirinya.
Begitu pula dengan signalman, dia hanya bekerja sebagai pemberi sinyal saja.
Konsekuensi dari pekerjaannya itu adalah ia ditempatkan di tempat yang sesuai
dengan aktivitasnya itu, meskipun pada akhirnya ia menjadi teralienasi, baik dari
aktivitasnya, orang lain, maupun dirinya sendiri. Ia pun tinggal jauh dari tempat
tinggal masyarakat lainnya sehingga ia mengalami social-isolation (Seeman,
1959:788), sebagai konsekuensi ia bekerja sebagai seorang pemberi sinyal.

Kemudian, dalam The Haunted House, rumah berhantu ini menjadi fokus
cerita dalam pembahasan ini. Rumah yang merupakan sebuah tempat tinggal
dikategorikan menjadi sebuah hantu simbolik. Rumah ini menjadi sebuah tempat
yang menakutkan bagi masyarakat di sekitarnya, ia terlepas dari esensi yang
sesungguhnya yaitu yang seharusnya menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk
ditinggali dan tempat untuk berlindung bagi sebuah keluarga. Oleh karenanya,
rumah itu teralienasi. Selain itu, tempatnya terdapat di lingkungan yang jauh dari
tempat tinggal masyarakat lainnya, sehingga rumah itu menjadi apartness from
society (Seeman, 1959:788), karena dijauhi oleh masyarakat sekitarnya, rumah itu
mengalami social isolation. Hantu-hantu (non-simbolik) itulah yang membuat
rumah itu menjadi teralienasi, sehingga peran hantu non-simbolik pada rumah ini
adalah sebagai pengalienasi bagi rumah tersebut.

Dalam The Trial for Murder, yang menjadi fokus adalah the murdered
man yang merupakan hantu non-simbolik yang mengalienasi narator (I). Hal ini
didasarkan pada hantu the murdered man selalu muncul dihadapan narator yang
merupakan juri persidangan atas kasus pembunuhan dirinya, sehingga narator
dapat melihatnya, sedangkan juri persidangan yang lain tidak dapat melihatnya.
Narator menjadi teralienasi karena dirinya digunakan oleh sesuatu yang asing
(hantu) untuk mencapai tujuan yang asing pula. Hal ini seperti yang diungkapkan
Fromm dalam konsep alienasi Marx, bahwa kasus ini seperti yang terjadi pada
seorang buruh, dimana keberadaannya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan si
majikan buruh tersebut. Buruh bekerja dan kemampuannya menjadi terbatas
karena majikannya yang telah mengatur bagian-bagian kerja buruh tersebut.
Padahal seharusnya, manusia itu seharusnya mencapai tujuan dalam dirinya
sendiri, bukan digunakan untuk menjadi alat mencapai sebuah tujuan (Fromm,
2001: 70). Kemampuan asli narator dalam persidangan ini menjadi terbatas,
karena hantu tersebut menunjukkan bagaimana proses ia dibunuh dengan
menampakkan dirinya, sehingga narator menjadi teralienasi dari dirinya sendiri.
Terakhir, dalam karya The Haunted Man and the Ghost’ Bargain, tokoh
Redlaw menjadi tokoh sentral. Ia merupakan seorang chemist yang selalu
menghabiskan waktunya di dalam laboratoriumnya. Saya juga
mengklasifikasikannya sebagai hantu simbolik, karena dari pendeskripsian dirinya
seperti orang yang dihantui. Ia hanya dapat ditemui pada malam hari saja, selain
itu ia memiliki suara yang berat dan menyeramkan. Redlaw selalu dihantui oleh
masa lalunya yang menyedihkan, sehingga ia berasumsi bahwa kenangan masa
lalunya itu yang membuatnya tersiksa. Hantu non-simbolik pada karya ini adalah
Phantom, yang selalu menghantui Redlaw. Phantom dapat menjadi representasi
Redlaw karena digambarkan memiliki ciri-ciri yang sama, dan terdapat satu
adegan ketika mereka berbicara seperti sedang berkaca, sehingga baik Redlaw
maupun Phantom dapat merefleksikan satu sama lainnya,
Redlaw adalah seseorang yang teralienasi, meskipun ia adalah seorang ahli
kimia, ia banyak menghabiskan aktivitasnya di lab miliknya, sehingga hubungan
dirinya dengan masyarakat lainnya pun menjadi terbatas, dengan kata lain ia
mengalami social-isolation. Ia juga powerless atau tidak berdaya ketika
memutuskan sesuatu dan justru takdirnya berada di tangan yang lain (Seeman,
1959:784). Hal ini terjadi ketika phantom menawarkannya untuk melupakan
kenangan masa lalunya. Phantom merasa jika ia menjadi Redlaw, ia akan
melakukan hal itu, sehingga Redlaw pun menyetujui kesepakatan itu karena ia
juga merasa bahwa phantom itu lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Ia juga
mengalami self-estrangement yaitu ia teralienasi dari dirinya sendiri, ketika ia
telah lupa dengan masa lalunya, yang berarti bahwa ia telah terpisah dari dirinya
sendiri, karena ia telah menjadi sesuatu yang baru, seperti konsep alienasi Seeman
mengenai self-estrangement yang dikutip dari Fromm (1955) “By alienation is
meant a mode of experience in which the person experiences himself as an alien.
He has become one might say, estranged from himself”. Redlaw terpisah dari
dirinya sendiri, karena ia kehilangan sesuatu yang dia miliki.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, saya
menemukan bahwa tiga karya Charles Dickens yang dibahas dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa hantu, baik simbolik maupun non-simbolik, berkaitan
dengan alienasi yang dicetuskan oleh Marx melalui Fromm dan Ollman, serta
alienasi Seeman. Hal ini ditunjukkan melalui sikap dan aktivitas para tokoh dalam
karya-karya tersebut yang merupakan unsur-unsur yang penting dalam
membangun hubungan antara cerita dengan teori.
Hantu yang menjadi fokus dalam penelitian ini tidak selalu muncul dalam
artian sebenarnya, tetapi muncul pula dalam arti yang lain, sehingga unsur-unsur
(seperti tokoh manusia dan benda) yang memiliki deskripsi seperti hantu dapat
pula disimbolkan sebagai hantu. Unsur-unsur yang disimbolkan menjadi hantu ini
pun ternyata selalu berkaitan dengan alienasi. Jenis alienasi yang terjadi pada
tokoh yang difokuskan dalam cerita itu pun cukup rumit, karena baik konsep
alienasi Marx dan Seeman terdapat di dalamnya. Hal ini terlihat jelas ketika
aktivitas tokoh menentukan harapan hidupnya. Aktivitas yang dilakukan terlihat
bukan sesuatu yang muncul dalam dirinya sendiri, tetapi tuntutan dari sesuatu
yang asing itu, sehingga ia tidak dapat menentukan apa yang menjadi harapan
hidupnya. Oleh karenanya, tokoh manusia yang rata-rata menjadi hantu simbolik
dalam penelitian ini, hidupnya tidak jelas, dan keberadaan mereka layaknya hantu,
yang tidak mempunyai harapan. Dari aktivitas itu juga yang membuat mereka
diasingkan atau terasing dari orang lainnya, sehingga jelas mereka mengalami
alienasi. Sedangkan hantu non-simbolik, keberadaannya ada yang teralienasi
maupun menjadi pengalienasi. Jadi, baik hantu simbolik maupun non-simbolik
selalu berkaitan dengan alienasi. Sehingga, dari penelitian ini terlihat bahwa hantu
menjadi manifestasi alienasi dalam fiksi karya Charles Dickens.


Daftar Sumber:
Fromm, E. 2001. Konsep Manusia menurut Marx. Terjemahan dari Marx’s
Concept of Man oleh Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Schacht, R. 1970. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif. Terjemahan dari
Alienation oleh Ikramullah Mahyuddin. Yogyakarta: Percetakan Jalasutra.
Buku dan Jurnal Elektronik:
Coffey, N. 2004. "Every Word of it is True”: The Cultural Significance of the
Victorian Ghost Story. Department of English. Winnipeg, Mannitoba:
University of Mannitoba.
Derrida, J. 1993. Specters of Marx. New York: Routledge.
Dickens, C. 1848. The Haunted Man and The Ghost's Bargain. Feedbooks.
Dickens, C. 1843. A Christmas Carol. Planet PDF.
Dickens, C. Three Ghost Stories. Planet PDF.
Guiley, R. E. 1992. The Encyclopedia of Ghosts and Spirits. New York: Facts
on File Inc.
Handley, S. 2007. Visions of An Unseen World: Ghost Beliefs and Ghost
Stories in Eighteenth-Century England. London: Pickering & Chatto.
Hudayat, A. Y. 2007. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Fakultas Sastra,
Universitas Padjadjaran.
Ollman, B. 1971. Alienation: Marx's Conception of Man in Capitalist Society.
New York: Cambridge University Press.
Seeman, M. 1959. "On The Meaning of Alienation." American Sociological
Review Volume 24. New York: University of Los Angeles.
Smajic, S. 2010. Ghost-seers, Detectives, and Spiritualists. Cambridge:
Cambridge University Press
Robert T. Tally, J. 2009. “Reading the original: Alienation, Writing, and Labor
in ‘Bartleby, the Scrivener’, in Bloom's Literary Theme's: Alienation. New
York: Bloom's Literary Criticism.

Minggu, Oktober 13, 2013

Grown Up

Today was a lovely day, especially for my cousin. Why, because it was my cousin's wedding. She and I, actually, were different in 10 month of age. She was born in January 1990 and I was in October at the same year. So this day we have the same age, yes 23 years old. I'm very happy that she could met her prince and got married in her 23rd. Am I jealous? Haha... of course, lol :p, but maybe this time I haven't met my prince yet, not this time, but maybe soon, hehehe, aamiin~

Well, actually, I'm not going to talk about that, but for other thing I've realized when I saw all my cousins gathered in the wedding party. I realized something that maybe often appear in my thought, but I don't care for it. What is that? We've grown up!

Ten years ago or more, maybe my cousins and I were used to be together. We lived at the same place, in Balubur Bandung, at my grandmother's house. We were grown up together at that place happily. We used to  gather at the back room to play some games, such as monopoly, cards, computer, and so on. We used to make some jokes, pick up some jambu air, take a walk to Taman Ganesha in every weekend, go to the market and help my grandmother to cook, go to the mosque, swim at Karangsetra, have picnic in some places, and many more we used to do together.

But today, one of my cousins, have a marriage. Even, one of them has a daughter. Yes, we've grown up now, and every time we will grow up. The time goes so fast. I don't know what will happen in the next ten years. Maybe we will be together again, but in different situation. Maybe we will bring our beloved children, and we will talk as parents who tell the stories of our children, we will not play like we used to be, but maybe our children will do. Yes, maybe the future will be like that.

Aahhh~ I really miss my childhood time. The time when we're still together in the old house which now have gone because it had been renovated, and it doesn't belong to us anymore. The jambu air  was gone, the atmosphere of the old house was missing, and we're really missing the memories of our childhood. Because, we've grown up now. The life we choose will bring us to the path we have chosen. Maybe that old time was gone, but never with it's memories.

Rabu, Oktober 09, 2013

When Life should be Chosen


For the first time in my blog, I'm going to write about what happen to my mom. It has been three years that my mom is suffering breast cancer. At the first time she knew that she had that deadly sickness, there was a bump in her left breast. So, she decided to check it through biopsy, a medical test commonly performed by a surgeon or an interventional radiologist involving sampling of cells or tissues for examination (en.wikipedia.org/wiki/biopsy), took the sample of the cancer cell. However, it was getting worse after this took, my family decided that my mom should have a cancer surgery. My mom actually didn't feel well, she didn't want to have the surgery. But, a doctor, who is also my family, really suggested that if it was liked the only way to survive. Then, my mother went to hospital to do some procedures before she had a surgery. I didn't know why, but it was a long and complicated procedure. The doctor who gave an appointment with my mother didn't come. So my mother finally decided to cancel the surgery. My mother has decided to do some alternative therapies to heal herself from cancer.

As time goes by, my mother has some alternative therapies, such as drink soursop leaf tea, which is known as the best medicine for cancer, drink mangosteen juice, some herbs, sarang semut tea, eat more vegetables and fruits, and many more. We (me, my sisters, and my father) also should follow her diet. However, my mother becomes so sensitive. She's easy to get angry or annoyed if we do some mistakes. As the first daughter, I do almost household duties. My mother's condition is never stabil, sometimes looks healthy but other times she is weak. She becomes so resentful. So my father often tells us not to tell our problems to her.

Someday, my mother's condition became so weak, then I was afraid maybe my mother didn't have much time anymore. She was depressed because of her choice not to take the surgery. The doctor in my family really stressed that she must take it if she wanted to survive. And it really became her stressful topic in her mind. And one thing that made her really depressed that the doctor said if she still didn't take the surgery, she would die in 6 months later. Oh God! Why did he say that to his own cousin? It made me really mad, and of course all my family did. We'd tried to give her spirit, reliance, optimism, and hope, that she still has chance to survive. We never know when we will die, but we will someday, for sure. Not him who knew the answer when we will die, but HIM! Only HIM! Sometime, medical treatment is always be the first choice for people. So, maybe some doctors will be proud of their ability to cure sick people. However, sometime they forget that, who only can cure people is not them, but HIM up there. That should be remembered!

For now, my mother still commits what she has decided. She wears a kind of waistcoat for cancer therapy which invented by Dr. Wasito, in Tangerang. We should have great optimism that my mother will be recovered soon from her cancer. Although some people out there maybe furious why we do not decide to take the surgery, my mother keeps steadfast to face this all, and she still tries to get healthy again. Even she told me that she was grateful with this, because she can feel that she can be closer to HIM. Yes, I hope so. I hope that this sickness will abort all her mistakes, just like what Rasulullah (PBUH) had said. I can only hope the best for her.



Minggu, Oktober 06, 2013

One Step Closer

One step closer.....
The title isn't in A Thousand Year's lyric, but it is about my age, my life, and my future. Well, today is my birthday. From now on, I'm a 23 year old woman. Woman? Yes, I'm not a young girl anymore, although I always wish that this would be always my forever 20th birthday, then I will always be young, haha!

Maturity, a word that will always be considered. Actually I don't know what happened to my 22nd age. I was really under pressure, I felt that it was not myself. My ego was really uncontrolled. What I felt was that I wanted to be free, to let me out from my problems, and I really wanted to go somewhere I never knew. Those all really made me confused, fed up, and crazy. Yes, that was true! But I'd tried to hold on with my life. Then, I passed through those all. Alhamdulillah, I came back to my normal self. I hate my 22 which I wished that I would be more fortunate. However, I should thank that Allah still give me many chances to do, to fix all.

Well, today is my birthday. Nothing special in my birthday. No party (of course), no candle (of course, it's forbidden in Islam), no cake, or else, less felicitation from my family and friends, but there are always prayers for me from those one I always love, this is the most important!

I realize that in this my 23rd age, I should become stronger, more creative, braver, and better than previous. I should get closer with Allah, because I know that I'm getting closer to the door of my death. Yes, that is  the one I always should remember. I only hope for the best. The best I can do, the best also I can get. And I have many prayers that in my 23rd year old, I hope my all targets will be coming true.

One step closer to success
One step closer to happiness
One step closer to death

Rabu, September 18, 2013

My 7th Song: Untitled Yet (Late Post)

Here it is, proudly I present to you my seventh song. Actually I created it maybe a month ago, not in short time as usual, I felt difficult to find the compatible lyric. So, I don't know what this song tells about, maybe it is just something hidden inside my mind and my heart. Huwaa....i think it's not a parallel lyric, hehe! Btw, check the lyric out.

Untitled

Maybe I know, it's just another fake
Cause I know I made a mistake
Maybe I should let go over from you
Cause I should remember of who I am
And I'm not the one who's like you

Baby, if I could turn back all of the time
I would choose, I didn't want to find you
But all is too late, life should be like this
I must pass my life through all these
and I still miss the piece of my life

Then my heart will wait for something I can't tell
and it's about you who feel lonely
if you believe then I can tell the truth
what my heart says and you will be free
I have you only inside of the rhyme
Nothing's fine if it's only a lie

Oh God I know, I'm still staring at the sky
Wishing here, for the bird's coming around
Then she will give me a letter from the sky
Something that will change my life
Flawless night covers the end of the numb

However I still don't know what's going on
Just realize I'm nothing for you
when the life will give a little luck for me
would promise I won't make my mistake
Destiny will bring me to that place
and we're glad that all is over from now

Yayaya, and so the lyric! Who is you?! I don't know, maybe the star...
My sister told me that the intro was similar to Jason Mraz's. I felt so, maybe I was inspired by his song, then I remember, yes it is. My intro is just quite similar to the song 'Woman I loved' by Mraz, hehe...Anyway but this song was really my creation which limited to my guitar play. When I'm bored, I play my guitar randomly, then suddenly I just find nice melody, so I create the song. That's the way I make a song, so accidentally. :D

Kamis, September 12, 2013

Untitled, Unknown, ???

Okay, maybe this is my first time to write (read:tell) something actually I never blow it up directly. Sometime, I just use some metaphors, or analogy, or symbol when I speak about this. Because, maybe I'm very sensitive and too shy, so I might be afraid of something that will happen. However, I can't deny from it, I just want to write it down, and everything's done. Then I hope, I feel better after this.
So, what am I going to discuss? No, actually I won't discuss it because I'm the one who feel it, and I just want to write about what I feel. Ehemm....!
Someone said that it is an 'annual mourning', maybe it's often happened to that one. But I just feel it currently or maybe for a couple past few months, actually since I was graduated from my university. And it makes me suffered. But I thank Allah, it makes me closer to Him.
It is not easy way I could pass. There are more feelings I can feel in every single time: nervous, curious, anxious, worried, hopeful, and so many things I can feel. Maybe, hope you guys guess it, got it?!
Well, everybody I'm sure, they feel it too. But for me, I'm different. It's not easy for me. I just hope that this will be fine after what I've done a past few days and the next days I don't know what I should do. I hope the best will be mine, although I know I always wish for that one, the glowing star in the sky which bravely standing beautifully with its light. Huff! However, maybe I never have that one, but there are many things I can expect: maybe the butterfly which is flying around the flower, or the moon which is shining in the lovely night, or maybe the sun which hides behind the clouds. Ah, I just don't know, because this is a mystery of my destiny. I just want to believe Him. Only Him I should believe.

*Sigh! What actually I am talking about?! I don't know. :|




Rabu, September 04, 2013

Miss World: Kedok Eksploitasi Perempuan ala Kapitalisme

Lak-tolak-tolak tolak Miss World sekarang juga| Pus-hapus-hapus ekploitasi perempuan!
(yel-yel tolak Miss World Rabu, 4 September 2013, aksi dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jawa Barat)
Aksi tolak Miss World di depan Gedung Sate
Suara penolakan kontes kecantikan sedunia alias Miss World bergema di seantero jagad Indonesia ini. Hampir kebanyakan ormas-ormas Islam menolak Miss World dilaksanakan di Indonesia, karena kontes ini hanyalah kedok para pebisnis untuk mengeksploitasi perempuan. Kontes semacam ini juga dapat merusak moral dan akhlak penduduk Indonesia, yang mayoritas Muslim. Kenapa, yuk disimak tulisan opini yang telah saya buat, check this out!



Tahun 2013, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah ajang kompetisi perempuan sedunia atau biasa disebut dengan Miss World. Rencananya, kontes kecantikan yang akan digelar pada 23 September 2013 mendatang ini akan diadakan di dua kota besar, yaitu Bali dan dan Jakarta, sebagai tuan rumah bersama. Namun perhelatan dunia yang diadakan setahun sekali ini nampaknya menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Fakta Miss World
          Jika dilihat sejarah Miss World sendiri, kompetisi ini dimulai pada tahun 1951 oleh pasangan suami istri, Eric dan Julia Morley di Inggris. Pada mulanya, Miss World merupakan ajang kontes pertunjukan busana bikini yang sedang menjadi mode fashion teranyar pada masa itu, namun kemudian media menyebutnya dengan Miss World.  Pada tahun 1980, kontes ini mereposisi dirinya dengan slogan Beauty with a Purpose (Kecantikan dengan Tujuan), sehingga para panitia menambah tes kompetisi ini sehingga sesuai dengan slogan, yaitu tidak hanya memfokuskan pada kecantikan tetapi juga kecerdasan dan kepribadian para peserta.  Kontes Miss World adalah salah satu ajang kompetisi terbesar yang ada di dunia dan banyak menarik perhatian masyarakat dunia. Organisasi Miss World sendiri banyak meraup keuntungan yang besar tiap tahunnya.
          Demi mendapat perhatian masyarakat nasional dan dunia, para perempuan yang menjadi peserta ajang kompetisi ini rela ‘menjual’ kecantikan dan kemolekan tubuhnya di depan masyarakat dan media umum. Tak tanggung-tanggung busana yang dipakai dalam kompetisi ini adalah busana yang menunjukkan sebagian besar tubuh perempuan yang seharusnya ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan secara umum. Meskipun ada isu mengatakan bahwa kompetisi yang akan dilaksanakan tahun ini tidak akan ada pertunjukkan bikini , tetapi tetap saja kompetisi ini adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan secara keseluruhannya.

Bentuk Eksploitasi terhadap Perempuan
          Kontes kecantikan memang tak hanya Miss World, banyak pergelaran serupa yang diadakan baik tingkat dunia seperti Miss Universe, maupun tingkat nasional seperti Puteri Indonesia dan Miss Indonesia.  Kontes semacam ini menjadikan perempuan sebagai pusat perhatian karena perempuan-lah pesertanya. Kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan dinilai dan justru menjadi fokus perhatian dalam kompetisi, meskipun kecerdasan dan kepribadian mereka pun tetap menjadi aspek tambahan untuk menjuarai kontes ini. Akan tetapi, masyarakat dunia sekarang seolah tersihir oleh ajang yang justru sebenarnya dapat merusak akidah dan moral bangsa, terutama bagi negeri ini yang ditinggali oleh mayoritas kaum Muslim.
          Kontes Miss World dan semacamnya merupakan salah satu simbol ekploitasi terhadap perempuan dengan dalih pemberdayaan dan penggalian potensi diri.  Miss World adalah ikon pornografi dan eksploitasi perempuan. Meskipun tidak ada bikini, secara keseluruhan ajang ini adalah ajang pamer aurat. Mereka berjalan berlenggak-lenggok di depan khalayak umum yang notabene bukan mahramnya dengan mengenakan pakaian atau gaun yang memamerkan aurat. Mereka juga pada akhirnya akan menjadi model-model yang menjual produk pornografi di media yang akan dikonsumsi secara gratis oleh masyarakat. Jelas Miss World dan kontes semacamnya merusak akidah dan moral bagi bangsa ini.
          Selain itu, melalui ‘penjualan’ kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan, kontes ini akan menghasilkan banyak keuntungan bagi para pemilik modal yang menjadi sponsor dalam perhelatan ini. Kompetisi yang diadakan setiap satu tahun sekali dan ditonton oleh berjuta-juta masyarakat dunia, jelas akan memberikan keuntungan besar bagi pemilik acara. Perempuan, lagi-lagi menjadi korban kapitalisme melalui kontes yang dikemas secara menarik dan menipu. Tentu saja, seharusnya hal ini merugikan pihak peserta sebagai perempuan. Tubuh berharga milik mereka pada akhirnya dijual murah kepada para pemilik modal yang justru mendapat keuntungan lebih banyak. Inilah kedok kapitalisme yang dibalut sedemikian rupa agar masyarakat terhipnosis oleh ajang kecantikan semacam ini, sehingga mereka tak sadar bahwa mereka sedang dieksploitasi. Sistem Kapitalisme telah menjadikan masyarakat buta dan rusak. Keuntungan dan materi selalu menjadi patokan dalam hidup, sehingga para penganut sistem ini meyakini bahwa segala kenikmatan duniawi harus diraih, kekayaan harus dimiliki, popularitas harus dicari, tanpa memperhatikan bahwa ada Zat yang Mahatinggi yang seharusnya dijadikan poros hidup. Itulah sistem Kapitalisme yang merusak manusia dimana sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan dijadikan sebagai landasan hidup.

Islam Menjamin Harga Diri Perempuan
          Tak ada yang dapat menjamin perlindungan kepada perempuan kecuali Islam.  Islam menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Islam menyuruh kepada setiap Muslimah untuk menutup auratnya secara sempurna dengan kerudung (An-Nur: 31) dan jilbab (Al-Ahzab: 59). Perempuan diposisikan sebagai makhluk mulia di mata keluarga, masyarakat, dan negara. Negara wajib menjamin kesejahteraan dan melindungi perempuan di mana pun berada. Perempuan mendapat jaminan untuk dilindungi dan bukan dieksplotasi apalagi melalui aurat tubuhnya. Islam juga melindungi perempuan dengan menyuruh kepada laki-laki yang bukan mahramnya untuk menundukkan pandangan kepada mereka. Dengan itulah, perempuan akan merasakan keamanan yang nyata karena Islam telah menjamin seluruhnya. Berbeda dengan kondisi sekarang, yang justru perempuan dieksploitasi kecantikan tubuhnya. Perempuan dijadikan produk untuk mendapatkan keuntungan bagi para pemilik modal yang rakus akan kekuasaan, serta perempuan juga dijadikan sebagai objek pemuasan hawa nafsu laki-laki yang melihat kemolekan tubuhnya melalui ajang-ajang kecantikan semacam Miss World.

          Islam menilai perempuan  bukan dari ukuran tubuh atau kecantikan fisiknya semata, akan tetapi keimanan dan ketakwaan itulah yang akan menempatkan perempuan kepada derajat yang tinggi di mata Allah swt.  Namun kesempurnaan Islam hanya akan dapat dirasakan ketika Islam dan seluruh aturannya diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Disanalah keamanan dan kehormatan perempuan akan terwujud, bukan dalam sistem Kapitalisme yang sekarang masih diterapkan di negeri ini. 

Wallahualam bisshawab