Okay, maybe this is my first time to write (read:tell) something actually I never blow it up directly. Sometime, I just use some metaphors, or analogy, or symbol when I speak about this. Because, maybe I'm very sensitive and too shy, so I might be afraid of something that will happen. However, I can't deny from it, I just want to write it down, and everything's done. Then I hope, I feel better after this.
So, what am I going to discuss? No, actually I won't discuss it because I'm the one who feel it, and I just want to write about what I feel. Ehemm....!
Someone said that it is an 'annual mourning', maybe it's often happened to that one. But I just feel it currently or maybe for a couple past few months, actually since I was graduated from my university. And it makes me suffered. But I thank Allah, it makes me closer to Him.
It is not easy way I could pass. There are more feelings I can feel in every single time: nervous, curious, anxious, worried, hopeful, and so many things I can feel. Maybe, hope you guys guess it, got it?!
Well, everybody I'm sure, they feel it too. But for me, I'm different. It's not easy for me. I just hope that this will be fine after what I've done a past few days and the next days I don't know what I should do. I hope the best will be mine, although I know I always wish for that one, the glowing star in the sky which bravely standing beautifully with its light. Huff! However, maybe I never have that one, but there are many things I can expect: maybe the butterfly which is flying around the flower, or the moon which is shining in the lovely night, or maybe the sun which hides behind the clouds. Ah, I just don't know, because this is a mystery of my destiny. I just want to believe Him. Only Him I should believe.
*Sigh! What actually I am talking about?! I don't know. :|
Kamis, September 12, 2013
Rabu, September 04, 2013
Miss World: Kedok Eksploitasi Perempuan ala Kapitalisme
Lak-tolak-tolak tolak Miss World sekarang juga| Pus-hapus-hapus ekploitasi perempuan!
(yel-yel tolak Miss World Rabu, 4 September 2013, aksi dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jawa Barat)
![]() |
| Aksi tolak Miss World di depan Gedung Sate |
Tahun
2013, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah ajang kompetisi perempuan
sedunia atau biasa disebut dengan Miss World. Rencananya, kontes kecantikan
yang akan digelar pada 23 September 2013 mendatang ini akan diadakan di dua
kota besar, yaitu Bali dan dan Jakarta, sebagai tuan rumah bersama. Namun
perhelatan dunia yang diadakan setahun sekali ini nampaknya menuai pro dan
kontra di kalangan masyarakat.
Fakta Miss World
Jika dilihat sejarah Miss World
sendiri, kompetisi ini dimulai pada tahun 1951 oleh pasangan suami istri, Eric
dan Julia Morley di Inggris. Pada mulanya, Miss World merupakan ajang kontes
pertunjukan busana bikini yang sedang menjadi mode fashion teranyar pada masa itu,
namun kemudian media menyebutnya dengan Miss World. Pada tahun 1980, kontes ini mereposisi dirinya
dengan slogan Beauty with a Purpose (Kecantikan
dengan Tujuan), sehingga para panitia menambah tes kompetisi ini sehingga
sesuai dengan slogan, yaitu tidak hanya memfokuskan pada kecantikan tetapi juga
kecerdasan dan kepribadian para peserta.
Kontes Miss World adalah salah satu ajang kompetisi terbesar yang ada di
dunia dan banyak menarik perhatian masyarakat dunia. Organisasi Miss World
sendiri banyak meraup keuntungan yang besar tiap tahunnya.
Demi mendapat perhatian masyarakat
nasional dan dunia, para perempuan yang menjadi peserta ajang kompetisi ini
rela ‘menjual’ kecantikan dan kemolekan tubuhnya di depan masyarakat dan media
umum. Tak tanggung-tanggung busana yang dipakai dalam kompetisi ini adalah
busana yang menunjukkan sebagian besar tubuh perempuan yang seharusnya ditutupi
dan tidak boleh diperlihatkan secara umum. Meskipun ada isu mengatakan bahwa
kompetisi yang akan dilaksanakan tahun ini tidak akan ada pertunjukkan bikini ,
tetapi tetap saja kompetisi ini adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan
secara keseluruhannya.
Bentuk Eksploitasi terhadap
Perempuan
Kontes kecantikan memang tak hanya
Miss World, banyak pergelaran serupa yang diadakan baik tingkat dunia seperti
Miss Universe, maupun tingkat nasional seperti Puteri Indonesia dan Miss
Indonesia. Kontes semacam ini menjadikan
perempuan sebagai pusat perhatian karena perempuan-lah pesertanya. Kecantikan
dan kemolekan tubuh perempuan dinilai dan justru menjadi fokus perhatian dalam
kompetisi, meskipun kecerdasan dan kepribadian mereka pun tetap menjadi aspek
tambahan untuk menjuarai kontes ini. Akan tetapi, masyarakat dunia sekarang
seolah tersihir oleh ajang yang justru sebenarnya dapat merusak akidah dan
moral bangsa, terutama bagi negeri ini yang ditinggali oleh mayoritas kaum
Muslim.
Kontes Miss World dan semacamnya
merupakan salah satu simbol ekploitasi terhadap perempuan dengan dalih
pemberdayaan dan penggalian potensi diri.
Miss World adalah ikon pornografi dan eksploitasi perempuan. Meskipun
tidak ada bikini, secara keseluruhan ajang ini adalah ajang pamer aurat. Mereka
berjalan berlenggak-lenggok di depan khalayak umum yang notabene bukan
mahramnya dengan mengenakan pakaian atau gaun yang memamerkan aurat. Mereka
juga pada akhirnya akan menjadi model-model yang menjual produk pornografi di
media yang akan dikonsumsi secara gratis oleh masyarakat. Jelas Miss World dan
kontes semacamnya merusak akidah dan moral bagi bangsa ini.
Selain itu, melalui ‘penjualan’
kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan, kontes ini akan menghasilkan banyak
keuntungan bagi para pemilik modal yang menjadi sponsor dalam perhelatan ini.
Kompetisi yang diadakan setiap satu tahun sekali dan ditonton oleh berjuta-juta
masyarakat dunia, jelas akan memberikan keuntungan besar bagi pemilik acara.
Perempuan, lagi-lagi menjadi korban kapitalisme melalui kontes yang dikemas
secara menarik dan menipu. Tentu saja, seharusnya hal ini merugikan pihak
peserta sebagai perempuan. Tubuh berharga milik mereka pada akhirnya dijual
murah kepada para pemilik modal yang justru mendapat keuntungan lebih banyak.
Inilah kedok kapitalisme yang dibalut sedemikian rupa agar masyarakat
terhipnosis oleh ajang kecantikan semacam ini, sehingga mereka tak sadar bahwa
mereka sedang dieksploitasi. Sistem Kapitalisme telah menjadikan masyarakat
buta dan rusak. Keuntungan dan materi selalu menjadi patokan dalam hidup,
sehingga para penganut sistem ini meyakini bahwa segala kenikmatan duniawi
harus diraih, kekayaan harus dimiliki, popularitas harus dicari, tanpa
memperhatikan bahwa ada Zat yang Mahatinggi yang seharusnya dijadikan poros
hidup. Itulah sistem Kapitalisme yang merusak manusia dimana sekulerisme atau
pemisahan agama dari kehidupan dijadikan sebagai landasan hidup.
Islam Menjamin Harga Diri
Perempuan
Tak ada yang dapat menjamin
perlindungan kepada perempuan kecuali Islam.
Islam menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Islam menyuruh
kepada setiap Muslimah untuk menutup auratnya secara sempurna dengan kerudung
(An-Nur: 31) dan jilbab (Al-Ahzab: 59). Perempuan diposisikan sebagai makhluk
mulia di mata keluarga, masyarakat, dan negara. Negara wajib menjamin
kesejahteraan dan melindungi perempuan di mana pun berada. Perempuan mendapat
jaminan untuk dilindungi dan bukan dieksplotasi apalagi melalui aurat tubuhnya.
Islam juga melindungi perempuan dengan menyuruh kepada laki-laki yang bukan
mahramnya untuk menundukkan pandangan kepada mereka. Dengan itulah, perempuan
akan merasakan keamanan yang nyata karena Islam telah menjamin seluruhnya.
Berbeda dengan kondisi sekarang, yang justru perempuan dieksploitasi kecantikan
tubuhnya. Perempuan dijadikan produk untuk mendapatkan keuntungan bagi para
pemilik modal yang rakus akan kekuasaan, serta perempuan juga dijadikan sebagai
objek pemuasan hawa nafsu laki-laki yang melihat kemolekan tubuhnya melalui
ajang-ajang kecantikan semacam Miss World.
Islam menilai perempuan bukan dari ukuran tubuh atau kecantikan
fisiknya semata, akan tetapi keimanan dan ketakwaan itulah yang akan
menempatkan perempuan kepada derajat yang tinggi di mata Allah swt. Namun kesempurnaan Islam hanya akan dapat
dirasakan ketika Islam dan seluruh aturannya diterapkan dalam bingkai Khilafah
Islamiyah. Disanalah keamanan dan kehormatan perempuan akan terwujud, bukan
dalam sistem Kapitalisme yang sekarang masih diterapkan di negeri ini.
Wallahualam bisshawab
Rabu, Agustus 28, 2013
Sound of the Nature
Here some beautiful music box instrumental from Studio Ghibli films. I love those so much. Enjoy to relax yourself. Don't forget to watch their awesome movies. You may visit this site to download the movies. Here!
Enjoy ^_^
Minggu, Juli 21, 2013
Movie Review: Red Dawn (2012)
Pernahkah kamu membayangkan, misalnya jika musuh negara kita tiba-tiba saja datang dan mengambil alih sebagian wilayah negara ini? Kemudian, mereka dengan seenaknya berlaku layaknya seperti penguasa negeri ini, mengancam keamanan penduduk, dan membatasi segala aktivitas orang-orang yang tinggal di wilayah itu. Whooaa! I can imagine that! Itulah yang terjadi dalam film RED DAWN yang disutradarai oleh Dan Bradley.
Okay, mungkin tulisan ini bukan review secara utuh, aku cuma ingin sedikit mengomentari film yang penuh dengan bumbu nasionalisme atau cinta tanah air terhadap negara mereka.
Film Red Dawn dimulai dengan cuplikan beberapa berita (yang sebenarnya terjadi) yang memuat tentang kebangkitan kembali kekuatan sosialisme di Korea Utara, negara itu rupanya sangat mengancam keamanan Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Seperti yang kita ketahui, katanya, Korut sangat mengancam stabilitas keamanan dunia dengan pembuatan senjata nuklirnya. Meskipun Korut sebenarnya telah berperang dengan Korsel, tapi dibalik kekuatan Korsel ada US yang selalu membantunya, sehingga secara otomatis Korut juga telah mengancam US.
Kemudian scene berlanjut pada sebuah pertandingan American Football, Matt Eckert, yang menjadi aktor utama dalam film ini adalah seorang remaja berusia 17 tahun-an, akibat ulahnya yang seenaknya akhirnya timnya, Wolverine, harus mengalami kekalahan. Matt saat itu ditonton pula oleh ayahnya yang seorang polisi dan kakaknya, Jed (dibintangi oleh Chris Hemsworth), yang merupakan perwira angkatan laut yang baru saja pulang dari tugasnya di Irak.
Keesokan harinya, di pagi hari, tiba-tiba saja dari langit turun pasukan tak dikenal. Semua jalan di kota (aduh lupa deh) sudah dipenuhi oleh pasukan dari Korea Utara. Warga yang memberontak ditangkap dan dipenjara seperti tahanan. Tentu saja, Jed sebagai anggota militer US langsung bertindak cepat agar ia dan adiknya selamat. Mereka melarikan diri ke hutan diikuti oleh beberapa remaja lainnya. Kelompok remaja itu akhirnya menemukan sebuah pondok dan untuk sementara tinggal di sana karena situasi semakin buruk. Namun, ternyata pasukan Korut mengetahui keberadaan para remaja itu. Kelompok itu bersembunyi di tengah hutan. Mereka membawa ayah Daryl dan juga sang polisi (ayah Jed dan Matt). Ayah Daryl yang merupakan walikota daerah itu menyuruh para remaja untuk kembali, agar mereka selamat. Sedangkan Ayah Jed dan Matt menyuruh mereka untuk tetap bertahan dan justru melakukan perlawanan terhadap pasukan Korut. Kapten Cho akhirnya menembak sang polisi.
Pemberontakan pun dimulai. Kelompok remaja yang dipimpin Jed beranggotakan Matt, Robert (Josh Hutcherson), Daryl (dibintangi oleh Conor Cruise, anaknya Tom Cruise), Toni, Julie, Dany, dan Greg memulai strategi mereka untuk melawan. Mereka berlatih menggunakan senjata dan bom, menyelinap, dan menyerang musuh. Hingga mereka bisa merealisasikan itu semua, dengan langsung menyerang tempat-tempat yang dipenuhi oleh tentara-tentara Korut. Mereka memberikan tanda 'Wolverine' di dinding-dinding jalanan setelah melakukan penyerangan. Mereka berusaha menyulut kemarahan warga yang lain agar ikut berjuang bersama mengusir tentara musuh dari tanah negeri mereka.
Ya, seperti itulah kira-kira jalan ceritanya. Kalau tertarik ingin menonton, silakan download sendiri aja ya di website penyedia film gratis, heheh.
Nah, apa yang mau dikomentarin nih? Sebenarnya, film ini bukan film yang bagus-bagus amat. Kalau aku pikir sih, justru film ini kaya sebuah sindiran terhadap pemerintah Amerika sendiri. Bukankah US lebih banyak melakukan invasi-invasi yang tiba-tiba dan juga dengan alasan yang kurang logis seperti misalnya invasi ke Irak dan Afghanistan dengan alasan memerangi terorisme setelah tragedi runtuhnya WTC. Padahal masih belum diketahui dengan jelas siapa dalang perbuatan keji itu. Namun, dengan alasan itu US menggembar-gemborkan War Against Terorism dan memulai invasinya ke Afghanistan dan Irak. Semua mata dunia tertuju kesana pada saat itu, mereka menghancurkan negara itu, menyiksa rakyat negeri itu dengan kejam, dan mengambil sumber daya alamnya. Masyarakat dunia sudah mengetahui dengan jelas sekarang, bahwa sebenarnya US hanya ingin menguasai kekayaan SDA disana. Film ini tentu saja berkebalikan dengan realita yang ada sebenarnya. Lagipula, film ini juga sangat mengusung ide nasionalisme yang dalam Islam tidak diperbolehkan. Lihat saja kutipan kata-kata yang diucapkan oleh Jed kemudian diulang oleh Matt setelah kakaknya itu mati. Berikut cuplikannya:
Yah begitulah, film box office Amerika kebanyakan memutarbalikan realita yang ada. Banyak sekali film-film yang mengusung tema-tema Hero untuk menyelamatkan dunia, tapi siapa sih yang merusak dunia ini dengan kapitalisme dan imperialisme modernnya?
You know the answer, right?!
Oh ya, tapi film ini juga mengingatkan kita tentang 'pemberontakan' yang terjadi di Suriah. Sekelompok anak muda yang jengah dengan kondisi Suriah yang dipimpin oleh diktator Bashar Assad, mencoret-coret dinding jalanan untuk mengobarkan revolusi. Namun bedanya dengan film ini, 'pemberontakan' ini justru terjadi di dalam negeri mereka sendiri untuk lepas dari tirani pemerintah mereka yang kejam. Sampai saat ini, perjuangan 'pemberontakan' tentara Mujahiddin belum berakhir. Tentara Mujahiddin yang beranggotakan seluruh kalangan dari orang tua (bahkan tua sekali) sampai anak muda (bahkan anak kecil) selalu memegang senjata, mereka menghancurkan tentara-tentara pemerintah dan membombardir markas militernya. Namun, bukan nasionalisme yang mereka perjuangkan. Diin Islam-lah yang mereka perjuangkan sampai mati, agar sistem kehidupan yang berasal dari Yang Maha Kuasa itu dapat segera tegak untuk melepaskan semua tirani yang ada di dunia ini.
Bisa kita lihat kan perbandingannya? Mana yang lebih mulia?
Of course, you still know the answer! :)
Okay, mungkin tulisan ini bukan review secara utuh, aku cuma ingin sedikit mengomentari film yang penuh dengan bumbu nasionalisme atau cinta tanah air terhadap negara mereka.
Film Red Dawn dimulai dengan cuplikan beberapa berita (yang sebenarnya terjadi) yang memuat tentang kebangkitan kembali kekuatan sosialisme di Korea Utara, negara itu rupanya sangat mengancam keamanan Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Seperti yang kita ketahui, katanya, Korut sangat mengancam stabilitas keamanan dunia dengan pembuatan senjata nuklirnya. Meskipun Korut sebenarnya telah berperang dengan Korsel, tapi dibalik kekuatan Korsel ada US yang selalu membantunya, sehingga secara otomatis Korut juga telah mengancam US.
Kemudian scene berlanjut pada sebuah pertandingan American Football, Matt Eckert, yang menjadi aktor utama dalam film ini adalah seorang remaja berusia 17 tahun-an, akibat ulahnya yang seenaknya akhirnya timnya, Wolverine, harus mengalami kekalahan. Matt saat itu ditonton pula oleh ayahnya yang seorang polisi dan kakaknya, Jed (dibintangi oleh Chris Hemsworth), yang merupakan perwira angkatan laut yang baru saja pulang dari tugasnya di Irak.
Keesokan harinya, di pagi hari, tiba-tiba saja dari langit turun pasukan tak dikenal. Semua jalan di kota (aduh lupa deh) sudah dipenuhi oleh pasukan dari Korea Utara. Warga yang memberontak ditangkap dan dipenjara seperti tahanan. Tentu saja, Jed sebagai anggota militer US langsung bertindak cepat agar ia dan adiknya selamat. Mereka melarikan diri ke hutan diikuti oleh beberapa remaja lainnya. Kelompok remaja itu akhirnya menemukan sebuah pondok dan untuk sementara tinggal di sana karena situasi semakin buruk. Namun, ternyata pasukan Korut mengetahui keberadaan para remaja itu. Kelompok itu bersembunyi di tengah hutan. Mereka membawa ayah Daryl dan juga sang polisi (ayah Jed dan Matt). Ayah Daryl yang merupakan walikota daerah itu menyuruh para remaja untuk kembali, agar mereka selamat. Sedangkan Ayah Jed dan Matt menyuruh mereka untuk tetap bertahan dan justru melakukan perlawanan terhadap pasukan Korut. Kapten Cho akhirnya menembak sang polisi.
Pemberontakan pun dimulai. Kelompok remaja yang dipimpin Jed beranggotakan Matt, Robert (Josh Hutcherson), Daryl (dibintangi oleh Conor Cruise, anaknya Tom Cruise), Toni, Julie, Dany, dan Greg memulai strategi mereka untuk melawan. Mereka berlatih menggunakan senjata dan bom, menyelinap, dan menyerang musuh. Hingga mereka bisa merealisasikan itu semua, dengan langsung menyerang tempat-tempat yang dipenuhi oleh tentara-tentara Korut. Mereka memberikan tanda 'Wolverine' di dinding-dinding jalanan setelah melakukan penyerangan. Mereka berusaha menyulut kemarahan warga yang lain agar ikut berjuang bersama mengusir tentara musuh dari tanah negeri mereka.
Ya, seperti itulah kira-kira jalan ceritanya. Kalau tertarik ingin menonton, silakan download sendiri aja ya di website penyedia film gratis, heheh.
Nah, apa yang mau dikomentarin nih? Sebenarnya, film ini bukan film yang bagus-bagus amat. Kalau aku pikir sih, justru film ini kaya sebuah sindiran terhadap pemerintah Amerika sendiri. Bukankah US lebih banyak melakukan invasi-invasi yang tiba-tiba dan juga dengan alasan yang kurang logis seperti misalnya invasi ke Irak dan Afghanistan dengan alasan memerangi terorisme setelah tragedi runtuhnya WTC. Padahal masih belum diketahui dengan jelas siapa dalang perbuatan keji itu. Namun, dengan alasan itu US menggembar-gemborkan War Against Terorism dan memulai invasinya ke Afghanistan dan Irak. Semua mata dunia tertuju kesana pada saat itu, mereka menghancurkan negara itu, menyiksa rakyat negeri itu dengan kejam, dan mengambil sumber daya alamnya. Masyarakat dunia sudah mengetahui dengan jelas sekarang, bahwa sebenarnya US hanya ingin menguasai kekayaan SDA disana. Film ini tentu saja berkebalikan dengan realita yang ada sebenarnya. Lagipula, film ini juga sangat mengusung ide nasionalisme yang dalam Islam tidak diperbolehkan. Lihat saja kutipan kata-kata yang diucapkan oleh Jed kemudian diulang oleh Matt setelah kakaknya itu mati. Berikut cuplikannya:
We're not doing too bad for a bunch of kids. We're gonna fight, and we're gonna keep fighting, because it's easier now. And we're used to it. The rest of you are going to have a tougher choice. Because we're not going to sell it to you. It's too ugly for that. But when you're fighting in your own backyard, when you're fighting for your family, it all hurts a little less, and makes a little more sense. Because for them, this is just a place. But for us, this is our home.See that, huh?!
Yah begitulah, film box office Amerika kebanyakan memutarbalikan realita yang ada. Banyak sekali film-film yang mengusung tema-tema Hero untuk menyelamatkan dunia, tapi siapa sih yang merusak dunia ini dengan kapitalisme dan imperialisme modernnya?
You know the answer, right?!
Oh ya, tapi film ini juga mengingatkan kita tentang 'pemberontakan' yang terjadi di Suriah. Sekelompok anak muda yang jengah dengan kondisi Suriah yang dipimpin oleh diktator Bashar Assad, mencoret-coret dinding jalanan untuk mengobarkan revolusi. Namun bedanya dengan film ini, 'pemberontakan' ini justru terjadi di dalam negeri mereka sendiri untuk lepas dari tirani pemerintah mereka yang kejam. Sampai saat ini, perjuangan 'pemberontakan' tentara Mujahiddin belum berakhir. Tentara Mujahiddin yang beranggotakan seluruh kalangan dari orang tua (bahkan tua sekali) sampai anak muda (bahkan anak kecil) selalu memegang senjata, mereka menghancurkan tentara-tentara pemerintah dan membombardir markas militernya. Namun, bukan nasionalisme yang mereka perjuangkan. Diin Islam-lah yang mereka perjuangkan sampai mati, agar sistem kehidupan yang berasal dari Yang Maha Kuasa itu dapat segera tegak untuk melepaskan semua tirani yang ada di dunia ini.
Bisa kita lihat kan perbandingannya? Mana yang lebih mulia?
Of course, you still know the answer! :)
Minggu, Juli 14, 2013
Ironi Fanatisme Sepak Bola: Menukar Kehidupan Akhirat dengan Dunia Sesaat
Ehem...ehem...oke, malam ini pertandingan sepak bola antara Dream Team Indonesia vs Arsenal sedang berlangsung. Sambil nungguin gol masuk, sambil posting aja deh. Sebenernya, tulisan ini mungkin gak jauh beda sama postingan aku sebelumnya tentang fanatisme sepak bola. Mungkin sekedar pengantar, aku ceritain dulu deh gimana ceritanya dulu sampe aku suka sepak bola, atau Arsenal lebih tepatnya.
Well, ceritanya dulu kira-kira kelas 4 SD, aku udah mulai tertarik sama sepak bola. Ya, karena bapakku lumayan sering juga nonton Persib, jadi otomatis aku ikutan deh. Nah, pas mulai demam World Cup 2002, aku mulai kena virus sepak bola deh. Waktu itu aku masih kelas 6 SD dan lagi Ujian Akhir Sekolah, tetep aja aku tontonin pertandingannya, tapi Jerman only! (Gol for Arsenal menit 53, 0-2) Dari sanalah aku mulai menggandrungi sepak bola. Terus 2 tahun kemudian, virus itu tiba-tiba dateng lagi. Entah kenapa, tiba-tiba suatu malem, aku ingin banget nonton sepak bola. Kebetulan waktu itu, di TV7 pas malem minggu disiarkanlah Barclays Premiere League alias Liga Inggris. Kebetulan lagi, pertandingan yang disiarkan pada saat itu adalah Arsenal vs Millwall FC, Arsenal menang 4-1. Mulai dari sana, aku tambah suka sama sepak bola. Meskipun sebenarnya udah suka dan udah punya tim kesayangan dan pemain kesayangan yaitu AC Milan dan Kaka. Tapi ternyata, permainan Arsenal lebih cantik dan menarik untuk ditonton (apalagi rumput stadion di Inggris lebih hijau daripada di Itali, hehe). Wajar sih suka sama Arsenal waktu itu, secara, mereka emang lagi jadi the best team tahun 2003-04, apalagi rekor mereka sebagai The Invincible Team (49 match unbeaten atau tidak terkalahkan) belum selesai. Akhirnya aku jatuh cinta pada Arsenal dan juga Fabregas, haha. Begitulah ceritanya, sampai aku suka bahkan suka banget (waktu dulu) sama Arsenal.
Well, itu sekedar pengantar doang. Terus, gimana sekarang? Apa masih suka sama Arsenal? Umm, sebenarnya sih masih suka. Tapi gak se-fanatik dulu. Setelah Fabregas pergi ke Barcelona, entah kenapa dan syukurlah, rasa fanatik itu berkurang. Aku udah mulai jarang banget nonton Arsenal, bahkan kayanya emang gak niat (kecuali malem ini, karena mumpung Arsenal lagi tour ke Indonesia, hehe). Atau memang aku udah paham dengan berbagai kajian Islam yang aku ikuti, bahwa ikatan fanatisme hanyalah ikatan semu, tidak layak diperjuangkan di hadapan Allah!
So, apa yang mau dipersoalkan? Kebetulan, karena aku emang goonerette (julukan buat penggemar Arsenal versi cewek), aku punya banyak teman gooner dan goonerette di akun facebook. (Gol lagi nih buat Arsenal, 3-0). Ternyata emang mereka antusias sekali dengan kedatangan Arsenal ke Indonesia, dan aku lihat, mereka sampai bela-belain nginep di GBK di bulan puasa ini demi nonton Arsenal. Wajar? Wajar aja sih, tapi berlebihan juga ternyata (Wah, gol lagi nih sama Giroud, 4-0). Kenapa? Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim dan sedang bulan Ramadhan, gimana ibadah wajib mereka?! Sementara, pas aku ikut acara Muktamar Khilafah di GBK aja, mau sholat dan ke wc aja susahnya mintaaa ampun, karena peserta yang bejibun. Aku yakin penonton Indonesia buat pertandingan ini dan sejenisnya lebih dari capaian peserta MK.
Bahkan, ada status teman fb yang berkata kurang lebih seperti ini 'Tarawehnya libur dulu aja ya, kan sunah | Kalo nonton Arsenal mah wajib buat gooner'. Belum lagi, kadang ditambah dengan sikap nasionalisme yang berlebihan ketika menonton timnas kesayangan. Dan juga, ada aktivitas ikhtilat (campur baur antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahramnya) disana. Astaghfirullahaldziim! Itulah orang-orang yang menukar kehidupan akhiratnya demi kehidupan dunia yang sesaat, sungguh sangat merugi!
Aku harus banyak beristighfar nih. Mungkin saja aku juga termasuk orang-orang seperti itu, astaghfirullahaldziim....! Menyukai sesuatu memang diperbolehkan, asalkan ia tidak bertentangan dengan syara' dan tidak melebihi cintanya pada Allah swt. Menonton pertandingan sepak bola memang mubah hukumnya, asalkan ia tidak melalaikan ibadah yang menjadi prioritasnya kepada Allah swt. Inilah fakta dan realita yang terjadi di tengah-tengah umat Muslim sekarang ini, sungguh menyedihkan! Kebanyakan umat Muslim belum paham dengan Islam itu sendiri. Yah, begitulah...
Oke, mungkin cukup sekian postingan malam ini, karena pertandingan sudah berakhir dan tentunya tulisan ini harus menjadi sebuah refleksi bagi aku sendiri yang senantiasa harus mengevaluasi diri bagaimana menjadi seorang Muslim yang taat dan tidak mengabaikan hukum syara'.
Hey, by the way, the match is now finished with 0-7, you know who the winner is! Well done, lads!
Well, ceritanya dulu kira-kira kelas 4 SD, aku udah mulai tertarik sama sepak bola. Ya, karena bapakku lumayan sering juga nonton Persib, jadi otomatis aku ikutan deh. Nah, pas mulai demam World Cup 2002, aku mulai kena virus sepak bola deh. Waktu itu aku masih kelas 6 SD dan lagi Ujian Akhir Sekolah, tetep aja aku tontonin pertandingannya, tapi Jerman only! (Gol for Arsenal menit 53, 0-2) Dari sanalah aku mulai menggandrungi sepak bola. Terus 2 tahun kemudian, virus itu tiba-tiba dateng lagi. Entah kenapa, tiba-tiba suatu malem, aku ingin banget nonton sepak bola. Kebetulan waktu itu, di TV7 pas malem minggu disiarkanlah Barclays Premiere League alias Liga Inggris. Kebetulan lagi, pertandingan yang disiarkan pada saat itu adalah Arsenal vs Millwall FC, Arsenal menang 4-1. Mulai dari sana, aku tambah suka sama sepak bola. Meskipun sebenarnya udah suka dan udah punya tim kesayangan dan pemain kesayangan yaitu AC Milan dan Kaka. Tapi ternyata, permainan Arsenal lebih cantik dan menarik untuk ditonton (apalagi rumput stadion di Inggris lebih hijau daripada di Itali, hehe). Wajar sih suka sama Arsenal waktu itu, secara, mereka emang lagi jadi the best team tahun 2003-04, apalagi rekor mereka sebagai The Invincible Team (49 match unbeaten atau tidak terkalahkan) belum selesai. Akhirnya aku jatuh cinta pada Arsenal dan juga Fabregas, haha. Begitulah ceritanya, sampai aku suka bahkan suka banget (waktu dulu) sama Arsenal.
Well, itu sekedar pengantar doang. Terus, gimana sekarang? Apa masih suka sama Arsenal? Umm, sebenarnya sih masih suka. Tapi gak se-fanatik dulu. Setelah Fabregas pergi ke Barcelona, entah kenapa dan syukurlah, rasa fanatik itu berkurang. Aku udah mulai jarang banget nonton Arsenal, bahkan kayanya emang gak niat (kecuali malem ini, karena mumpung Arsenal lagi tour ke Indonesia, hehe). Atau memang aku udah paham dengan berbagai kajian Islam yang aku ikuti, bahwa ikatan fanatisme hanyalah ikatan semu, tidak layak diperjuangkan di hadapan Allah!
So, apa yang mau dipersoalkan? Kebetulan, karena aku emang goonerette (julukan buat penggemar Arsenal versi cewek), aku punya banyak teman gooner dan goonerette di akun facebook. (Gol lagi nih buat Arsenal, 3-0). Ternyata emang mereka antusias sekali dengan kedatangan Arsenal ke Indonesia, dan aku lihat, mereka sampai bela-belain nginep di GBK di bulan puasa ini demi nonton Arsenal. Wajar? Wajar aja sih, tapi berlebihan juga ternyata (Wah, gol lagi nih sama Giroud, 4-0). Kenapa? Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim dan sedang bulan Ramadhan, gimana ibadah wajib mereka?! Sementara, pas aku ikut acara Muktamar Khilafah di GBK aja, mau sholat dan ke wc aja susahnya mintaaa ampun, karena peserta yang bejibun. Aku yakin penonton Indonesia buat pertandingan ini dan sejenisnya lebih dari capaian peserta MK.
Bahkan, ada status teman fb yang berkata kurang lebih seperti ini 'Tarawehnya libur dulu aja ya, kan sunah | Kalo nonton Arsenal mah wajib buat gooner'. Belum lagi, kadang ditambah dengan sikap nasionalisme yang berlebihan ketika menonton timnas kesayangan. Dan juga, ada aktivitas ikhtilat (campur baur antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahramnya) disana. Astaghfirullahaldziim! Itulah orang-orang yang menukar kehidupan akhiratnya demi kehidupan dunia yang sesaat, sungguh sangat merugi!
Aku harus banyak beristighfar nih. Mungkin saja aku juga termasuk orang-orang seperti itu, astaghfirullahaldziim....! Menyukai sesuatu memang diperbolehkan, asalkan ia tidak bertentangan dengan syara' dan tidak melebihi cintanya pada Allah swt. Menonton pertandingan sepak bola memang mubah hukumnya, asalkan ia tidak melalaikan ibadah yang menjadi prioritasnya kepada Allah swt. Inilah fakta dan realita yang terjadi di tengah-tengah umat Muslim sekarang ini, sungguh menyedihkan! Kebanyakan umat Muslim belum paham dengan Islam itu sendiri. Yah, begitulah...
Oke, mungkin cukup sekian postingan malam ini, karena pertandingan sudah berakhir dan tentunya tulisan ini harus menjadi sebuah refleksi bagi aku sendiri yang senantiasa harus mengevaluasi diri bagaimana menjadi seorang Muslim yang taat dan tidak mengabaikan hukum syara'.
Hey, by the way, the match is now finished with 0-7, you know who the winner is! Well done, lads!
Rabu, Juli 03, 2013
Hypocrite!
There is a question in my mind, why do almost people have two faces?! It's not real two faces I mean. Yea, according to this post title, hypocrite! But I don't mean it is in the true meaning.
Sometime we find that ourselves may like something but probably we also hate something. Life nowadays has been more difficult to be distinguished, who is actually the good one and the bad one? but we should look it deeper, what is about heart? Heart never lies, although face can show the opposite. I don't understand why. Why it is so hard to explain? When they tell us, they keep telling us that they hate something or someone. But in fact, why they still show their kindness to someone they hate, or actually maybe they never hate it, they only want to make justification for us. So who become the victim? I don't know!
And it is also applied to those who believe that they have faith to Islam, but they won't obey to Allah's rules. They only take some parts of the rules and ignore the others. How can?!
Err, maybe we should make a self-correction, are we also including into that person? we never know, only Him knows. Naudzubillah~
Sometime we find that ourselves may like something but probably we also hate something. Life nowadays has been more difficult to be distinguished, who is actually the good one and the bad one? but we should look it deeper, what is about heart? Heart never lies, although face can show the opposite. I don't understand why. Why it is so hard to explain? When they tell us, they keep telling us that they hate something or someone. But in fact, why they still show their kindness to someone they hate, or actually maybe they never hate it, they only want to make justification for us. So who become the victim? I don't know!
And it is also applied to those who believe that they have faith to Islam, but they won't obey to Allah's rules. They only take some parts of the rules and ignore the others. How can?!
Err, maybe we should make a self-correction, are we also including into that person? we never know, only Him knows. Naudzubillah~
Being Natural, Being Romantic
Hwaaah, rasanya udah lama banget gak bikin tulisan di blog, gak juga kali ya, hehe...
Well, sore ini ternyata langit mendung dan akhirnya turun hujan. Hujan itu indah, hujan itu romantis. Gimana gak romantis coba? Kalau kita lihat pepohonan semuanya jadi terlihat segar dan hijau, dedaunan merunduk malu karena kebasahan, genangan air berusaha menangkap peri-peri kecil yang turun dari langit, dan mereka berlompatan riang gembira menyambut hujan, apalagi kalau hujan di pegunungan dan tertutupi oleh kabut tipis, owww! that's so.... Eits tunggu dulu!
Romantis yang aku maksud adalah romantis versi kakek William Wordsworth. Mungkin bagi yang tahu, Wordsworth hidup sekitar abad ke-18 dan 19 dimana era ketika ia hidup dinamakan zaman Romantis (ciyeee :p) dan dia menjadi salah satu pelopor era Romantis bersama rekannya Samuel Taylor Coleridge, setelah membuat kumpulan puisi Lyrical Ballads yang dipublikasikan pada tahun 1798.
Terus, romantis menurut versi mereka gimana sih?
Romantisisme adalah aliran yang lebih mengutamakan perasaan emosional, kemurnian, keoriginalitasan, natural, dan apa adanya. Romantisisme terwujud dalam karya sastra, seni, dan puisi. Wordsworth yang tinggal di pedesaan lebih banyak membuat puisi yang berkaitan dengan alam atau perasaannya tentang nature. Inilah yang disebut dengan Romantis.
Dibawah ini adalah satu puisi Wordsworth yang aku suka, I wandered lonely as a cloud
I wandered lonely as a cloud
That floats on high o'er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.
Continuous as the stars that shine
And twinkle on the milky way,
They stretched in never-ending line
Along the margin of a bay:
Ten thousand saw I at a glance,
Tossing their heads in sprightly dance.
The waves beside them danced; but they
Out-did the sparkling waves in glee:
A poet could not but be gay,
In such a jocund company:
I gazed—and gazed—but little thought
What wealth the show to me had brought:
For oft, when on my couch I lie
In vacant or in pensive mood,
They flash upon that inward eye
Which is the bliss of solitude;
And then my heart with pleasure fills,
And dances with the daffodils.
That's so romantic, right?! Bisa kelihatan kan sisi romantisnya Wordsworth? Dia menggunakan banyak hal yang berkaitan dengan alam atau nature, so natural and back to nature. Mungkin, aku yang seorang penulis puisi juga, gaya berpuisiku sedikit terpengaruh oleh aliran ini. Aku sering sekali menggunakan nature sebagai objek puisi untuk mewakili perasaanku. Alam selalu mewakili setiap perasaan manusia atau sebaliknya, sehingga kita bisa membuat analogi satu sama lain. Ya, being natural, being so romantic.
Alam memang begitu indah, dan tentunya Pencipta dibalik itu semua lebih indah dibandingkan yang lain. Bagiku dengan mentadaburi alam, semakin besar cinta dan rasa syukurku pada-Nya. Apalagi jika alam ini lengkap dengan aturan-Nya, sudah pasti kehidupan ini akan sempurna karena bernaung dalam ridho-Nya.
| raining is always beautiful to me |
dan paling enak lagi sambil dengerin instrumental music box kayak ini nih, enjoy your time ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)

