Selasa, Juli 17, 2012

The Guillotine: Fastest Way to the Death



The battled starts adversaries 
We bathe in our blood 
The worst is yet to come 
We've reached the covenant 
To kill what we have started 
Kill the machines 
We've spawned to fight in the darkest hour 
(escape the faith - the guillotine)


Heyho, what's up?! I dunno why suddenly I'm interested in this great and scary thing. It's not suddenly, actually, I've been interested in 3 years ago with this deathly device. Why do I want to post this? I actually want to write a story which tells about this. I'd ever write the short story one when I've been in 2nd semester.  It will be the long long story actually, but I made it shorter, to be my assignment.

Well, that's only my introduction.

The guillotine is actually a device used for carrying out executions by decapitation (wikipedia.com). It consists of a tall upright frame from which an angled blade is suspended. This blade is raised with a rope, and the condemned's neck is positioned beneath it. The blade then falls rapidly, severing the head from the body. It was created by Doctor Joseph-Ignace Guillotine, a French Phsycian, who proposed the capital punishment in that period. t's used during the period of France Revolution to punish to all whom should be in death penalty. It is a humane punishment because it can kill human very fast and painless.




Yucckss!!! Bloody hell!


You can imagine this punishment when it is applicable in this country. I think the corruptors will not rise and even they who have a plan to do corruption will be sooo scary if they know this bloody punishment. But nowadays, there's no country used this device in their punishment, because it is regarded to be too cruel punishment.


Yeah, that's very cruel punishment in that period. But why do I want to tell the story about it? Well, I'm just interested in the French histories, about the war, revolution, and all, including this deathly device.


Well, that's only my posting. To know more, find it by yourself, LOL :P


Watch out for the headless ghost behind youuuuu!!!!!

Minggu, Juli 15, 2012

Feelings

Mixed feelings now are in me. My feeling shows everything. 
Happy, sad, bored, love, confuse, annoyed, funny, angry, and other which are too much to be said.
Feels that it will have no end. But this is life, living in the moment to be like this, living my life.
Not like the straight road, but just like passing through the mountain.
Wherever I'm going, I will always have all these feelings.
But I'm trying to enjoy as the world is on my hand.
I just want to say that I'm lucky.
Because this life is remarkable and  the after is more remarkable.
And the world as I see it is remarkable.
Because the world is Yours, and so I'm.
But I won't give up. Whether all these feelings appear.
And even the skies get rough.
I'm giving all my life and my love.
I won't give up.
Because I'm lucky and I'm Yours.




Selasa, Juni 05, 2012

My 4th Song ;)


And this is my fourth song, yeah! Finally I made it finished, fyuuhh….!

This song actually is made for make human realized that this world is now damaged by the hand of human itself. Not only aby the hand of human itself, but also by the rule of theirs. Yes, now, every country in this world are ruled by the hand of human, made by human thought which are limited and very weak. Who knows actually about us, this world and the universe? Of course God! But what have they made? They do not stand on the God’s rule! Yup, that is the reality. And with this song, I made the answer that we should find the way which will bring us to God’s rule! Ya, many people forget about God’s rule, although they always read it, but actually they don’t understand at all. So, with this way, we will be guided. Just check my new song with the genre of pop-rock (maybe:p) ;) 
So what “The Way” is?! Think it by yourself ;)




The Way

By Arsvicesca

The world is now falling

Like the crashing down of mountain
The human races are breaking
Like the collapsed building
They don’t have any chance to make another better world
Till find the way…………..

The earth is now shaking

By the wickedness of fellow
The wind is now roughing
By the cunning reality
What can make us to keep stay in this world
We always should find the way……………

Reff:

The clouds were dense in the darkness
With the great sound of the high fury
Did you hear this amazing voice 
Of the suffering world

But the sun is still shining

And the sky is bright sometimes
And the rain is still falling
To make cool this heated ground
It is a beautiful sign that we will soon
Find to follow the way…………

Reff 2: 


And we will get the right impression 

How to live in this limited world
After finding the true way
That we should walk away…………

Breaking part:


We still have a chance to make this world

Better with this way and we will survive
And don’t try to free from we believe
we have the way…………


We should walk on in this path

No matter what we will face
Cause the promise has been made
We should believe our faith
Just don’t doubt of what have been made
Cause we have the way……….

End:

The sun is still shining
And still spreading its light
We still have many chances
If we keep to find the way

Sabtu, Juni 02, 2012

Ketika Fanatisme Menjadi Sebuah Ikatan, Cinta Kita untuk Siapa?!



Tragedi berdarah terjadi di stadion Gelora Bung Karno minggu yang lalu. Tiga orang tewas dikeroyok ketika pertandingan Persija vs Persib berlangsung. Pengeroyokan karena adanya fanatisme supporter diduga menjadi penyebabnya.

Salah satu dari korban tewas tersebut adalah teman saya, Rangga Cipta Nugraha. Ia adalah teman SMA saya. Saya masih ingat ketika masih sekelas dengannya. Dia memang penggemar sejati Persib. Berbeda dengan saya yang sangat menyukai Arsenal pada saat itu. Dan saya tidak terlalu menyukai liga Indonesia. Ya, kami memang sama-sama menyukai sepak bola. Tanpa pernah saya duga, dia pergi meninggalkan dunia ini dengan kematian yang tragis. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang terbaik, kawan!

Atas kejadian itu, akhirnya saya memutuskan untuk sekedar share di blog saya ini mengenai masyarakat Indonesia yang dibutakan oleh fanatisme dunia sesaat. Tanpa memandang apapun, tanpa memihak siapapun, kebanyakan dari mereka dibutakan oleh fanatisme. Bagaimana Islam memandang ikatan yang tidak shahih itu?

kerusuhan menjadi ciri khas suporter fanatik

Biasanya rasa fanatik muncul ketika dikumpulkan bersama orang-orang yang memang memiliki sesuatu yang sama, contohnya seorang supporter sebuah tim sepak bola akan terbangun jiwa fanatiknya ketika ia dikumpulkan bersama orang yang memang bersama-sama mendukung tim yang sama. Tetapi memang tidak selalu fanatic. Rasa fanatic muncul ketika rasa cinta terhadap sesuatu itu berlebihan, sehingga ia bisa melakukan apa saja demi yang dicintainya itu. Ketika orang-orang yang fanatic ini dikumpulkan karena kecintaan mereka yang sama, maka hal itu akan menciptakan sebuah ikatan antar mereka.

Ada satu ikatan yang memenuhi kriteria diatas (yang terjadi diantara para supporter sepak bola). Ikatan itu dinamakan ikatan kebangsaan. Ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempat dimana ia hidup dan menggantungkan diri. Ikatan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ikatan Nasionalisme, yang merupakan ikatan yang paling lemah dan rendah nilainya. Ikatan ini dipenuhi dengan sifat yang emosional dan akan muncul ketika serangan atau ancaman terhadap negeri-negeri mereka berdatangan. Maka ikatan ini bernilai rendah sekali. (An-Nabhani, 1953: 39)

Ikatan assabiyah (nasionalisme, termasuk didalamnya ikatan yang ada dalam diri supporter fanatik) terjadi ketika taraf berfikir manusia itu lemah dan rendah. Ikatan ini bersifat emosional yang selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, yaitu untuk membela diri. Ikatan ini juga sifatnya sementara (temporal) yaitu muncul saat membela diri ketika datangnya ancaman tadi. Sedangkan jika dalam keadaan normal, ikatan ini tidak akan muncul. Oleh karena itu, ikatan ini tidak bisa dijadikan pengikat antar sesama manusia. (An-Nabhani, 1953:41)

Dari paparan Ustadz Taqiyyudin An-Nabhani tersebut bisa disimpulkan, bahwa ikatan yang terdapat dalam diri supporter fanatic termasuk ke dalam ikatan assabiyah. Hal ini dikarenakan terdapat ciri-ciri yang telah disebutkan diatas. Ikatan yang terdapat di dalam diri supporter fanatic untuk membela tim yang sama ini bersifat emosional, karena perasaannya muncul ketika ancaman itu datang. Misalnya, ketika Persib bertemu dengan lawan yang menjadi musuh bebuyutannya (mis. Persija), para supporter selalu terlibat dengan aksi kekerasan, yang tidak jarang, menyebabkan supporternya meregang nyawa. Karena mereka berpikir bahwa supporter lawan sama dengan musuh, musuh berarti harus dilawan. Hal ini menandakan tingkat berfikir mereka yang sudah lemah dan merosot. Berbeda halnya ketika Persib bertanding melawan klub lainnya yang tidak dicap sebagai musuh bebuyutan. Para supporter bersikap biasa saja. Hal ini menunjukkan ikatan ini bersifat temporal atau sesaat.

Selain itu, dengan adanya tragedy ini dan tragedy-tragedi kekerasan lainnya, menandakan bahwa mereka mengalami krisis identitas. Masyrakat Indonesia yang mayoritasnya Muslim, sudah sepatutnya memoles diri mereka dengan keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta, Allah swt. Ketika diri seorang Muslim berhias diri dengan bekal keimanan yang kokoh, sudah pasti tragedy tersebut tidak akan terjadi, karena seorang Muslim yang taat pada Tuhannya, sudah pasti akan takut ketika ia melakukan kemasiyatan. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia sekarang lepas dari identitas mereka sebagai seorang Muslim. Bukankah ummat Muslim itu ibarat satu tubuh? Ketika ada bagian tubuh yang terluka, maka anggota tubuh lainnya pun ikut merasakan sakitnya? Bahkan, nyawa seorang Muslim itu lebih berharga daripada runtuhnya Ka’bah! Ketika mereka memahami hal itu, sudah pasti hal tersebut tidak akan pernah terjadi, karena sesama muslim adalah saudara.

Sungguh ironis! Kecintaan manusia diberikan kepada bukan yang selayaknya. Cinta mereka menjadi buta dan silau oleh dunia yang sesaat ini. Cinta mereka dibesar-besarkan tapi tidak ditempatkan pada tempat yang layak. Sudah sewajibnyalah untuk seorang Muslim, cinta itu diberikan kepada yang menciptakan rasa itu, Allah swt. Tidaklah rugi memberikan cinta kita sepenuhnya untuk Allah semata, justru cinta itu bersambut dengan kebaikan yang akan diberikan oleh sang Pemilik Cinta. Sudah seharusnya, cinta kita itu kita buktikan dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, menerapkan aturan-aturan yang dibuat-Nya. Hingga cinta itu akan berbalas kebaikan baik di dunia, maupun di akhirat nanti.
Wallahualambisshawab


Referensi:
An-Nabhani, Taqiyyudin. 2010. Peraturan Hidup dalam Islam (Penerjemah, Abu Amin, dkk). Jakarta: HTI Press.

Jumat, Mei 11, 2012

Ghost???!




Scrooge and Marley's Ghost

And now, I mix up with one thing. What’s that?! What do you think is that?!

It’s the GHOST!!!! WHOAAA!! So, creeeeeeepyyyy........
Hey, what’s kind of ghost? Actually not really the ghost! Yeah, just the Ghost Stories, hahaha!! Yeah, from now on I will mix up with the ghost stories by Charles Dickens. This is actually for my last assignment in my Bachelor degree a.k.a SKRIPSI!

I don’t know why I’m so much interested in ‘that thing’. At first, actually I really want to discuss about fantasy, because I’m so interested, but because my lecturer said that it would be hard to be discussed. Then, I found A Christmas Carol in my Ebook collection, so I decided to choose this work to be discussed on my paper in Critical Theory. I was actually doubt with this work, but I tried to understand it. Well, okay shortly, I only wanted to discuss Dickens’ work, although I still feel hard to understand his language.


One thing I found which I never expected, the ghost in Dickens’ works is related to one of ideologies.  I learned that we have three ideologies in this world; there are Capitalism, Socialism, and Islam. Since

Dickens lived in 1800-s where the Industry Revolution developed in England, he saw many things happened on that period. The Industry Revolution was very related to the Capitalism, and I assume that Capitalism began at this period which the system of production developed because of Industry, and there were created the social class, especially the worker or labor class. The industry itself should be owned by whom has much money, then there would be appeared the investor. Actually investor itself had been developing since Elizabethan period.

Okay, back to the topic. Why should be the ghost related to one of those ideologies I’ve mentioned above? Since Dickens saw many things happened in England in 1800s which Capitalism had been developing, then he also saw that many social class were created, high class, middle class, and lower class. He felt empathic to people who lived as lower class and worker class. In, A Christmas Carol, the ghosts which appeared had functions. What are their functions?



Uncle Dickens with his cool beard and stories, haha

I saw that the ghosts who appear in A Christmas Carol are as liberator. Since Scrooge, the major character of the story is alienated by society, and then the function of the ghosts is as the liberator for Scrooge to release him from alienation. Alienation which was triggered by Marx, was really closed to Dickens idea in his story. So, Derida in his book The Specter of Marx said that – A specter is haunting Europe --- the specter of communism” according to Marx’s writing The Manifesto of Communist Party.


In A Christmas Carol, the ghost of Marley and three ghost of Christmas come to release him from his alienated condition, so he would save in his life. The word ‘specter’ is the same meaning with the word ‘ghost’. Then, so that’s why I have to say that the ghost in Dickens’ story is related with the ideology. The ideology is Socialism, including also Communism. Maybe, Dickens was also a humanist, since his writings always gave the criticism to the government indirectly which contained socialism inside.


Well, I just make an assumption according to what I’ve read many works of Dickens in his ghost stories.

But maybe I will find many new things after read all his works. So, just wait until I graduate from my university. ;)


The Ghost of Christmas Future in A Christmas Carol



Jalan Setapak Menuju Cahaya




Aku berjalan menapaki tanah kering
Aku menyeberangi jembatan  di atas derasnya sungai
Perjalanan ini masih jauh untuk kucapai
Meskipun begitu,
Aku tak pernah merasakan lelah
Biarlah rasa lelah itu melayang ketika kutiba disana
Di sebuah tempat dimana akan kugapai harapanku
Kuraih impian kecilku
Aku harus terus berjalan
meskipun kuharus lewati badai
Terjangan ombak
Derasnya sungai
Sambaran petir
Kuharus tetap berjalan
Meskipun jembatan itu roboh
Gedung itu ambruk
Tapi…
Aku tak bisa selamanya seperti ini
Kami tak bisa hidup selamanya seperti ini
Dimanakah mereka??
Yang katanya akan menjamin kesejahteraan pada kami
Yang katanya akan memberikan kami cita-cita tinggi itu
Tapi, mereka dusta!!!
Aku tak percaya lagi pada mereka
Aku hanya berharap pada secercah cahaya kehidupan abadi
Yang akan menerangi langit dan bumi dan seluruh alam semesta
Karena ku percaya
Cahaya itu berasal dari-Nya
Cahaya yang akan menerangi seluruh dunia
Karena itu kuyakin
Akan kukejar ilmu sejati
Tuk aku raih cahaya Illahi
Sehingga…
Cahaya itu dapat kembali menyinari dunia ini



*untuk pejuang-pejuang kecil yang tangguh di negeri ini ketika sistem pendidikan negeri ini tak lagi dapat menjadi harapan bagi masa depan, hanya cahaya Islam yang dapat mengantarkan pada masa depan yang lebih baik

Jumat, April 27, 2012

The Tree or The Hole?



       Aku berjalan menyusuri padang rumput yang luas. Entah dimana aku berada, aku tak peduli, yang kupikirkan saat ini adalah pasti ada sesuatu yang menempatkan diriku terjebak di tempat ini. Aku memandang seluas yang aku dapat. Aku tak sendiri, aku bersama dengan manusia yang lainnya, jumlah kami begitu banyak. Tetapi,  ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya di dalam hati. Di tempat ini, ada banyak pohon yang mungkin, aku pikir, mereka akan menyentuh langit. Tetapi di sisi lain, ada begitu banyak lubang, jumlahnya lebih banyak daripada pohon yang tumbuh itu. Aku tak berani melihat lubang-lubang itu, karena ada begitu banyak lubang yang gelap dan dalam.


       Aku terus berjalan memperhatikan dua hal tersebut. Aku pun tak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah aku akan lebih memilih menumbuhkan pohon, atau aku akan menggali lubang, yang aku pun tidak tahu ada apa di dalamnya. Namun, ada seseorang yang menawarkan benih pohon untukku. Aku tidak mengenal orang itu, tapi aku lebih tertarik untuk menanam pohon daripada untuk menggali lubang. Kemudian ia memberikannya padaku dan membawaku pada sebuah lahan luas, dimana disana telah banyak pohon tumbuh dengan indahnya. Ada yang sudah tinggi, ada pula yang masih berbentuk tunas.  Aku pun mulai menanam benih itu, tanpa mengharapkan hasil yang akan terjadi. Tetapi aku senantiasa merawatnya dan menyiraminya, meskipun kadang aku lupa dan aku lelah menunggu pohon itu tumbuh. Tapi aku mulai menaruh harapan, bahwa pohon itu suatu hari akan tumbuh besar, tinggi, dan kuat. Hingga munculah tunas, aku begitu bahagia. Sehingga aku mulai merasa nyaman tinggal bersama orang-orang yang sama-sama sedang menumbuhkan pohon ini. Mereka memberiku banyak masukan agar aku tetap bisa menjaga pohon ini untuk tetap tumbuh kuat. Namun ada satu pertanyaan kembali merasuki jiwa ini. Dimanakah orang yang telah menawarkanku benih pohon ini?

        Dahulu, ketika aku berusaha untuk menumbuhkan benih pohon milikku, pohon miliknya berada disamping milikku. Pohon miliknya memang belum seberapa tinggi, tetapi ia telah memiliki daun-daun yang hijau dan segar. Tapi kini kulihat, pohon miliknya tak lagi ada, daun-daunnya sudah lama berguguran, begitu pula batangnya yang rapuh, kini telah tercerabut bersama akar-akarnya. Kemanakah dia? Aku sedih ketika melihat pohonnya tidak terawat, tapi aku tak bisa membantunya. Pohon itu akan tumbuh ketika orang yang menanamnya sendiri yang merawatnya.  Kini hanya ada bekas bahwa ada sebuah pohon mungil pernah tumbuh disana.

            Suatu hari, aku berjalan kembali menyusuri dunia luar. Aku melihat langit biru begitu luas terbentang, berharap suatu waktu nanti pohonku akan mencapainya, sehingga aku dapat memanjatinya, hingga tiba di tempat lain yang aku yakini lebih baik keadaannya. Aku tersenyum, menarik nafas penuh harapan. Aku terus berjalan menyusuri tempat yang asing ini. Aku tak menduga, lubang-lubang di tempat ini semakin banyak dari yang aku lihat pertama kalinya. Aku mulai berhati-hati melangkah. Ada satu lubang yang sepertinya baru saja digali kemarin, tetapi ia begitu dalam dan gelap. Aku mencoba mendekati lubang itu, untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya.  Aku tak bisa melihatnya dari atas sini. Tapi aku tak mau masuk ke dalamnya. Aku pun berteriak memanggil seseorang yang ada di dalam sana. “Hallooooooo!!! Bisakah kamu keluar sebentar?!” teriakku. Tak lama kemudian, seseorang keluar dari dalam lubang itu. Pakaiannya begitu lusuh dan hitam, dipenuhi oleh kotoran dari dalam tanah. Wajahnya pun tak kukenal, kotor dan cemong. Ia membawa beberapa butir batu kerikil besar di tangannya yang dipenuhi oleh tanah-tanah basah. Aku begitu jijik melihatnya.  Kemudian ia menutupinya dengan jubah besar, agar tubuhnya yang kotor itu tidak terlihat olehku. Kemudian ia tersenyum padaku. Sebuah senyuman yang sangat kukenal.  Ya, dia adalah orang yang menawarkanku benih pohon beberapa waktu yang lalu.





            “Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyaku.

            “Lihatlah emas-emas yang kutemukan!” jawabnya.
            “Emas?? Dimana ada emas?” tanyaku kembali.
            Ia menunjukkan beberapa kerikil yang dibawanya. “Ini!” katanya.

        Air mataku mengalir begitu saja, aku berlari menjauhinya, kembali menuju tempat dimana aku menanam pohonku. Aku tak bisa berkata-kata padanya. Meskipun aku ingin sekali mengeluarkannya dari lubang yang ia gali kemarin. Tapi ia telah terjebak cukup dalam, bahkan pohon yang ia tanam sudah tak tersisa, semuanya telah tercerabut dari akarnya.

Aku hanya terdiam terpaku, berharap aku tak pernah pergi ke tempat itu lagi. Tapi aku ingin membawanya, berharap ia akan menanam kembali pohonnya bersama meraih tingginya langit biru di atas sana. Tapi bagaimana pun aku tidak punya pilihan lain. Dia sudah terjebak disana. Dan kini aku hanya berharap pohonku dapat tumbuh dengan kuat, tinggi dan besar hingga mencapai langit dimana impian akan aku raih disana.